LANGIT7.ID-, Jakarta - - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (
PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (
Gus Yahya) mengingatkan bahwa jabatan di lingkungan NU, termasuk
Ketum PBNU, merupakan amanah dengan tanggung jawab yang sangat besar dan bukan perkara yang sepele.
Ia menegaskan, siapa pun yang dipercaya menjadi pengurus
NU tidak boleh memandang jabatan hanya sebagai sarana memperoleh pengakuan atau kedekatan dengan tokoh-tokoh tertentu. Menurutnya, setiap posisi di NU adalah amanah yang menuntut kesungguhan dalam berkhidmat.
Baca juga: Gus Yahya Gemakan Wirid “Ya Jabbar Ya Qahhar” di Munas-Konbes NU 2026, Ini Pesan Tegasnya"Ini adalah tanggung jawab dengan beban yang luar biasa besar bagi kita semua," tegas Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang tersebut di Gedung PCNU Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (22/7/2026) lalu.
Gus Yahya mengungkapkan bahwa dirinya pun merasakan beratnya amanah yang diemban sebagai Ketua Umum PBNU. Karena itu, ia mengajak seluruh pengurus di berbagai tingkatan untuk menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan semangat melayani jam'iyah.
Menurutnya, dinamika dan perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh mengalahkan kepentingan yang lebih besar, yakni menjaga persatuan dan kemaslahatan Nahdlatul Ulama.
"Kepentingan pribadi, keberatan-keberatan pribadi, keinginan-keinginan pribadi harus ditinggalkan demi kepentingan bersama jam'iyah Nahdlatul Ulama yang kita cintai ini," ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Yahya juga mengajak warga NU untuk terus menghidupkan pesan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari seperti tertuang dalam Muqaddimah Qanun Asasi. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kasih sayang, kerukunan, dan persatuan di tengah keluarga besar NU.
Baca juga: Roadmap 25 Tahun Nahdlatul Ulama Diminta Berbasis Strategi, Gus Yahya Soroti Konsolidasi"Apa pun keadaannya, apa pun masalahnya, kita tidak boleh kehilangan kasih sayang dan saling mencintai di antara sesama warga, sesama kader, dan sesama pengurus jam'iyah Nahdlatul Ulama," katanya.
Selain itu, Gus Yahya mengingatkan bahwa ikatan di NU tidak hanya dibangun melalui kebersamaan secara lahiriah, tetapi juga melalui ikatan ruhani.
Salah satu amalan yang dianjurkannya ialah membiasakan membaca Surah Al-Fatihah setiap hari dan menghadiahkannya kepada para muassis, ulama, pimpinan, serta warga NU sebagai bentuk doa dan penyambung ikatan spiritual.
Di akhir sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa setiap pengurus yang telah dilantik harus benar-benar memberi manfaat bagi organisasi.
"Tidak boleh ada pengurus yang sudah dilantik lalu membiarkan dirinya tidak menyumbangkan manfaat kepada jam'iyah. Setiap orang harus berguna, karena perjuangan kita adalah perjuangan peradaban," tegasnya.
Baca juga: Gus Yahya Soroti Dampak Perang Global, Serukan Penyelesaian Konflik Lewat Jalan DamaiDemi memperkuat kualitas kader, PBNU terus mengembangkan program kaderisasi melalui Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak NU (PDPKPNU) dan Pendidikan Menengah Kepemimpinan NU (PMKNU). Hingga saat ini, PDPKPNU telah digelar lebih dari 1.000 angkatan dengan meluluskan lebih dari 130.000 kader, sedangkan PMKNU telah mencapai lebih dari 80 angkatan dengan lebih dari 4.000 kader.
Meski capaian tersebut terus bertambah, Gus Yahya menegaskan bahwa proses kaderisasi belum selesai. PBNU menargetkan lahirnya 2,5 juta kader terlatih agar estafet perjuangan dan pengabdian Nahdlatul Ulama semakin kuat pada masa mendatang.
"Kita akan terus melakukan pelatihan kader ini sampai tercapai target 2,5 juta kader terlatih di lingkungan jam'iyah Nahdlatul Ulama," ungkapnya.
(est)