LANGIT7.ID-Jakarta; Utusan khusus Amerika Serikat untuk Gaza memperingatkan adanya “titik tanpa jalan kembali” jika gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali runtuh.
Peringatan itu disampaikan Nickolay Mladenov, perwakilan tinggi untuk Gaza dalam Board of Peace yang dibentuk Presiden AS Donald Trump, saat berbicara dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tengah menghadapi persaingan ketat dalam pemilihan umum, sebelumnya secara terbuka menolak bagian terbaru dari rencana AS yang ditujukan untuk mengakhiri perang dahsyat di Gaza.
Menurut Mladenov, jika pertempuran kembali pecah di Gaza, situasinya tidak sekadar menjadi kemunduran bagi proses perdamaian.
“Tidak akan ada peta jalan untuk kembali, tidak akan ada pemerintahan yang dapat dikerahkan, dan tidak akan ada lagi yang tersisa di lapangan untuk dibangun kembali. Itu bukan kemunduran. Itu akan menjadi titik tanpa jalan kembali bagi semua orang,” kata Mladenov kepada Dewan Keamanan PBB.
Dalam peta jalan yang disepakati Hamas pada 30 Juli, penonaktifan senjata akan diawasi oleh International Stabilization Force. Pasukan yang masih dalam tahap pembentukan tersebut direncanakan dikerahkan ke Gaza jika situasi mulai mereda dan dipimpin Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers.
Hamas sebelumnya berjanji menyerahkan senjatanya kepada badan pemerintahan Palestina yang baru. Kesepakatan tersebut mendapat skeptisisme dari Netanyahu, tetapi Presiden Trump menyambutnya sebagai sebuah terobosan.
Mladenov juga memperingatkan adanya risiko lain yang dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata, kali ini dari arah Hamas.
“Risiko kedua (terhadap gencatan senjata) bergerak ke arah yang berlawanan. Hamas telah berkomitmen untuk menghentikan seluruh aktivitas militernya. Komitmen itu masih harus dipenuhi sepenuhnya,” ujarnya.
“Setiap senjata yang masih dibawa, setiap terowongan yang masih dikerjakan, dan setiap konvoi yang masih dihalangi akan membuat proses ini mundur dan memberikan alasan kepada mereka yang ingin melanjutkan perang,” tambah Mladenov.
(lam)