LANGIT7.ID-, Teheran - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menolak upaya Amerika Serikat (AS) untuk menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar. Iran juga menyatakan bahwa Washington berusaha menghindari tanggung jawab atas konsekuensi agresi militernya terhadap Iran.
Dalam sebuah unggahan di akun X-nya, Baqaei mengatakan bahwa menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar berarti mengabaikan pihak yang memulai perang agresi serta pihak yang tindakannya memicu krisis di sekitar Selat Hormuz dan gangguan terhadap pelayaran komersial.
"Para pejabat AS menyalahkan Iran atas kenaikan harga bahan bakar, seolah-olah ingatan publik begitu pendek hingga lupa siapa sebenarnya yang memulai perang agresi, dan tindakan siapa yang memicu krisis yang berujung pada penutupan Selat Hormuz serta terganggunya pelayaran komersial," tulis juru bicara Iran tersebut.
Baca juga: AS-Israel-Arab Gelar Pertemuan Rahasia di Jerman, Demi Mendapat Lampu Hijau untuk Serang IranNamun, lanjut Baqaei, ini bukanlah taktik baru. Ia mencontohkan pada tahun 1939, Hitler juga melakukan hal serupa dengan melabeli invasinya ke Polandia sebagai tindakan defensif.
"Ketika pihak yang memicu 'perang pilihan' yang melanggar hukum justru menyalahkan korbannya atas dampak yang timbul, apakah hal ini patut dipandang sebagai 'kecemerlangan strategis', ataukah ini sekadar gejala klasik dari 'The March of Folly' (tindakan bodoh yang membawa bencana)?" tanyanya.
Militer Iran Menembak Jatuh Drone AS
Pasukan militer Iran menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) MQ-1 milik AS dan sebuah drone pengintai canggih jenis Orbiter di atas Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin pagi bahwa satu lagi drone MQ-1 milik "militer AS yang teroris" telah dicegat dan dihancurkan beberapa saat sebelumnya di atas Selat Hormuz.
"Drone tersebut dijatuhkan oleh sistem pertahanan udara baru yang canggih milik Angkatan Kedirgantaraan IRGC, yang beroperasi di bawah jaringan pertahanan udara terintegrasi negara tersebut," demikian bunyi pernyataan itu.
Baca juga: AS Tak Berkutik Kena Veto China dan Rusia Saat Ajukan Perpanjangan Sanksi Iran di PBBIRGC menggambarkan MQ-1 sebagai pesawat nirawak (drone) canggih yang telah mencatatkan 20.000 jam terbang di atas Afghanistan dan dikenal dengan julukan "Penjagal Kandahar."
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa MQ-1 telah ditarik dari armada tempur Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS beberapa tahun lalu dan digantikan oleh MQ-9. Ditambahkan pula bahwa AS terpaksa kembali menggunakan MQ-1 setelah hancurnya sejumlah besar drone MQ-9 milik mereka.
Dalam pernyataan terpisah, Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa pada hari Minggu pukul 18.30 waktu setempat, sebuah drone pengintai canggih jenis Orbiter terkena tembakan dan hancur oleh sistem pertahanan udara buatan dalam negeri yang dioperasikan oleh Pasukan Pertahanan Udara Angkatan Darat.
Angkatan Darat menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi di wilayah tenggara negara itu, di atas Selat Hormuz, dalam cakupan jaringan pertahanan udara terintegrasi negara tersebut.
(lsi)