LANGIT7.ID, Jakarta - Dua Ilmuwan Muslim berdarah Turki-Jerman yaitu dr Ugur Sahin dan dr Ozlem Tureci merupakan pasangan suami istri (pasutri) penemu vaksin Covid-19 dari perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech. Vaksin yang ditemukan Sahin bersama sang istri diklaim 90 persen efektif mencegah virus Covid-19.
Mulanya, Sahin membaca sebuah artikel jurnal kesehatan pada tahun 2020 tentang virus Covid-19 yang menyebar cepat di China dan berpotensi menjadi pandemi global. Ia pun mulai mengerjakan misi yang disebut Proyek
Lightspeed atau kecepatan cahaya, dengan menggunakan teknologi messenger RNA untuk mengembangkan vaksin.
Baca Juga: Bripka Nur Ali Suwandi, Polisi yang Bangun 13 Masjid dan PesantrenPada Maret 2020, Pemerintah Jerman menerapkan karantina wilayah seturut parahnya penularan. Saat itu, BioNTech sudah memiliki 20 kandidat vaksin yang kemudian diuji dengan melibatkan 500 peneliti.
"Vaksin ini bisa menjadi permulaan dari berakhirnya pandemi Covid-19," kata dr Sahin, seperti dikutip dari
New York Time.
Guna memaksimalkan penemuan vaksin ini, Sahin dengan BioNTech menggandeng pihak lain yakni Pfizer, sebuah perusahaan internasional dalam bidang kesehatan yang bermarkas di New York City, Amerika Serikat. BioNTech and Pfizer sendiri telah menjalin kerjasama sejak Maret 2018.
Kedekatan Sahin dengan pimpinan eksekutif Pfizer keturunan Yunani, Albert Bourla, sangat baik mengingat mereka sudah berteman sejak 2018. Keduanya memiliki latar belakang yang sama, yakni sebagai peneliti dan juga sesama imigran.
Baca Juga: Antovany Reza Pahlevi, Santri Go Internasional Berkarir di Start Up Kelas Dunia"Kita menyadari dia dari Yunani dan saya dari Turki. Hubungan yang sangat pribadi dari awal," kata Sahin.
Sementara itu, Bourla menyebut Sahin sebagai seorang yang memiliki kepribadian unik dan memiliki prinsip. Di antaranya adalah kepedulian Sahin hanya pada ilmu pengetahuan, karena Sahin tidak senang berbicara tentang bisnis. "Saya percaya 100 persen padanya," ucap Bourla.
Keberhasilan yang diraih Sahin bersama sang istri patut dirayakan di tengah permasalahan yang memprihatinkan tentang imigran di negara-negara Eropa, termasuk Jerman. Momentum ini menjadi contoh kecemerlangan dan kesuksesan integrasi.
Salah satu anggota Parlemen di Jerman, Johannes Vogel, turut angkat bicara dan mengatakan bahwa tidak akan ada BioNTech Jerman yang dibangun Ugur Sahin dan Ozlem Tureci jika masalah imigrasi digantungkan pada partai sayap kanan Alternatif Jerman. Ia menilai, adanya perusahaan ini menjadikan Negeri Bavaria sebagai negara imigrasi, ekonomi pasar, dan masyarakat yang terbuka.
Baca Juga: KH Maimoen Zubair Lahir Saat Peristiwa Sumpah PemudaLatar BelakangUgur Şahin adalah seorang imunologis dan dokter asal Turki. Pria kelahiran 1965 di Iskenderun, Turki, ini adalah profesor onkologi di Universitas Mainz dan salah satu pendiri perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, yang bermitra dengan Pfizer untuk memproduksi vaksin Covid-19 pertama yang disetujui di AS.
Saat masih usia empat tahun, Sahin pindah ke Jerman bersama orang tuanya yang bekerja di sebuah perusahaan di Jerman. Sejak kecil, Sahin sudah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter.
Di tahun 1996, Sahin yang mulanya hanya fokus pada penelitian dan mengajar di Universitas Zurich, mampu memenangkan penghargaan Nobel di bidang kesehatan. Sahin juga mendapatkan penghargaan Mustafa Prize, sebuah lembaga di Iran yang memberikan penghargaan pada ilmuwan Muslim pada tahun 2019.
Baca Juga: Intelektual Muda Ustadz Wildan Hasan Terbitkan Buku Menafsir NatsirPada 2002 silam, Sahin menikah dengan dr Ozlem Tureci, perempuan kelahiran Jerman dari pasangan warga negara Turki yang menjadi imigran dari Istanbul. Sahin bersama istrinya kemudian mendirikan BioNTech pada tahun 2008, yang didukung oleh saudara miliarder, Jerman Thomas dan Andreas Strungmann.
Şahin memimpin BioNTech untuk memulai vaksin virus corona pada awal 2020, yang bermitra dengan Pfizer pada Maret 2020 dan mendapat persetujuan pada bulan Desember.
Setelah beberapa tahun mendirikan BioNTech, Sahin ingin menjadikannya sebagai perusahaan besar Eropa di bidang Farmasi. BioNTech sudah berhasil meraih ratusan juta dolar dengan lebih dari 1.800 pegawai yang tersebar di Berlin dan berbagai kota di Jerman serta di Cambridge.
BioNTech kemudian menjual saham mereka ke publik dengan nilai pasar yang melonjak melebihi 21 miliar dolar Amerika. Hal ini menjadikan pasangan tersebut menjadi salah satu orang terkaya di Jerman.
Baca Juga: Mengenal HM Rasjidi, Kader Muhammadiyah Menteri Agama Pertama dengan Kiprah MenduniaKeberhasilan ini tidak menjadikan mereka merubah pola hidupnya. Kedua peneliti yang sudah menjadi miliarder ini tinggal bersama putri mereka yang sudah remaja di sebuah apartemen sederhana dekat dengan kantornya. Keduanya pun tetap mengendarai sepeda ke kantor dan tidak memiliki mobil.
Banyak perusahaan yang menjalin kerjasama dalam bentuk investasi untuk BioNTech, di antaranya Bill & Melinda Gates Foundation. Perusahaan ini juga telah menginvestasikan anggaran sebesar 55 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk mendanai penelitian tentang HIV dan tuberkulosis.
Selain mendirikan BioNTech, Sahind dan Tureci juga mendirikan Ganymed Pharmaceuticals, yang akhirnya diakuisisi Astellas Pharma pada tahun 2016 senilai 460 juta dolar AS.
Baca Juga:
Selain Cetak Hattrick ke Gawang MU, Salah Juga Harumkan Citra Islam di Inggris
Polemik A. Hassan dan Natsir dengan Soekarno Menyoal Ataturk(asf)