Keaslian dan keberadaan Alquran senantiasa terpelihara dan terjaga sepanjang zaman. Sebab Allah yang akan langsung menjaga dan memeliharanya dari
tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh tangan-tangan jahil. Sebagaimana firmanNya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
Latin: Innā naḥnu nazzalnaż-żikra wa innā lahụ laḥāfiẓụn.
Arti: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr ayat 9).
Baca Juga: Tafsir Surat As Shaff Ayat 6: Nabi Isa Beritahu Kerasulan Muhammad pada Bani IsrailPada masa Nabi, setiap wahyu yang turun, satu ayat atau lebih, terlebih dahulu Nabi Muhammad memahami dan menghafalkannya, kemudian disampaikan dan diajarkan kepada para sahabatnya persis seperti apa yang diterimanya, tanpa ada perubahan dan penggantian sedikitpun.
Selanjutnya Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat yang telah menerima ayat-ayat itu untuk menghafalkannya dan meneruskannya pula kepada para pengikutnya.
Selain itu, wahyu tersebut di tulis dan di catat oleh dewan penuIis wahyu yang disebut
Kuttab al-Wahy yang telah dibentuk oleh Rasulullah. Mereka ini terdiri dari para sahabat yang telah dapat menulis dan membaaca, baik dari golongan Muhajirin ataupun Anshar, baik ketika masih berada di Makkah maupun di Madinah.
Baca Juga: Aktivitas yang Tidak Boleh Dilakukan di Masjid, Nomor 1 Sering DijumpaiPara penulis wahyu itu ialah: Abu Bakar al-Shiddiq, Umar ibn al, Khattab, Usman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib, Amir ibn Fuhairah, Amer ibn al-Ash, Mu'awiyah ibn Abi Sufyan, Yazid ibn Abi Sufyan, al-Mughirah ibn Syu'bah, Zubair ibn al-Awwam, Khalid ibn al-Walid, al-Ala al-Hadhramiy, Muhammad ibn Salamah, Ubay ibn Kaab, Zaid ibn Tsabit, dan Tsabit ibn Qais ibn Syammas.
Para penulis tersebut, menuliskan wahyu yang diterima Rasulullah pada benda-benda yang lazim dipakai pada masa itu sebagai alat tulis, seperti pelepah kurma, batu, tulang-tulang hewan atau kulit-kulit hewan yang telah disamak. Ayat-ayat yang telah dituliskan oleh para penulis wahyu ini untuk Rasul disimpan dalam rumah Rasul sendiri.
Di samping itu, para penulis wahyu ini dan setiap orang Islam yang pandai tulis baca pada masa itu menuliskan pula ayat-ayat Alquran tersebut untuk diri dan keluarga mereka yang dipakai dan disimpan di rumah mereka masing-masing. Kepada para penulis wahyu ini, Rasul menunjukkan letak masing-masing ayat yang akan mereka tuliskan, yaitu di dalam surat mana, sebelum atau sesudah ayat mana.
Baca Juga: Bersih Hati dan Bagus Akhlak Lebih Penting dari Cerdas IntelektualHal ini disebabkan susunan ayat itu tidak kronologis, sebab kebanyakan surat tidaklah diturunkan semua ayat-ayatnya, telah disusul pula oleh surat-surat lainnya sehingga apabila turun sesuatu ayat, Rasulullah lalu menunjukkan letak ayat itu.
Apabila suatu surat telah lengkap diturunkan semua ayat-ayatnya, Rasulullah lalu memberikan nama untuk surat itu, dan untuk memisahkan antara suatu surat dengan surat yang sebelumnya atau sesudahnya, Rasulullah menyuruh letakkan lafadz basmalah pada awal masing-masing surat itu.
Tertib urut ayat-ayat dalam masing-masing surat itu dikokohkan pula oleh Nabi sendiri dengan bacaan-bacaannya dalam waktu shalat atau pun di luar shalat. Dalam rangka penulisan dan pemeliharaan Alquran ini Rasulullah mengeluarkan suatu peraturan, yaitu bahwa hanya ayat-ayat Alquran sajalah yang boleh mereka tuliskan. Adapun hadits-hadits atau pelajaran-pelajaran lain yang juga mereka terima dari Rasulullah tidak boleh menuliskannya di masa itu.
Baca Juga: Najeela Shihab: Hubungan Erat Keluarga Pengaruhi Kompetensi Akademis dan Sosial AnakImam Muslim meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari hadits Abi Sa'ad, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kamu menulis sesuatu dari padaku selain Alquran."
Larangan tersebut dikeluarkan Rasulullah dengan maksud untuk menjaga kesucian dan kemurnian Alquran, yakni supaya Alquran itu tetap terpelihara keasliannya, tidak bercampur aduk dengan kata-kata atau pelajaran-pelajaran lain yang juga mereka terima dari Rasulullah, tapi bukan ayat-ayat Alquran. Demikianlah cara Allah menjaga Alquran. Hingga kini pun banyak para penghafal Alquran (
huffadz) yang senantiasa menghafal dan memahami makna Alquran.
Sumber: Buku Ulumul Qur'an karya Drs H. A. Chaerudji Abdul Chalik.(zhd)