LANGIT7.ID - , Jakarta - Sahabat Langit7 pasti pernah datang ke acara resepsi pernikahan di gedung atau hotel berbintang. Umumnya, resepsi yang diadakan di tempat mewah makanan yang tersedia sangat berlimpah. Tapi tahukah Anda, kemana akhir dari makanan yang berlimpah tersebut?
Banyak yang tidak menyadari makanan banyak terbuang dari industri catering, industri hospitality, bakery atau industri makanan lainnya. Standar Operasional Prosedur umumnya yang menjadi faktor makanan lewat satu hari harus dibuang.
Pasangan wirausaha yang bergerak di bidang katering di Surabaya, Dedhy Baroto dan Indah Audivtia, merasakan kegelisahan yang terjadi terhadap makanan berlebih saat acara selesai.
Baca juga : 5 Makanan Ini Jadi Penyebab Bau Badan, Kopi Salah SatunyaPasalnya makanan berlebih tersebut sebetulnya sangat layak untuk dikonsumsi oleh manusia, seperti yang disampaikan Humas Garda Pangan Titis Jiyan Fitrianti Firmansyah kepada Langit7, Senin, (8/11/2021).
"Kami menyebutnya makanan berlebih, bukan makanan sisa. Entah karena aturan atau SOP makanan itu harus dibuang dan itu mubazir sekali."
Berawal dari kegundahan Dedhy dan Indah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya gerakan Garda Pangan. Kegundahan ini timbul karena masih banyak orang di Indonesia yang membutuhkan makanan, tapi mereka (beberapa) justru membuangnya begitu saja.
Pasangan ini kemudian bertemu dengan Eva Bachtiar, seorang aktivis pejuang food waste yang sudah bergerak terlebih dahulu di dunia ini. Dari pertemuan mereka inilah akhirnya berdiri Garda Pangan pada pertengahan 2017, yang kemudian menjadi yayasan nirlaba pada tahun 2018.
Saat ini Garda Pangan sudah berusia empat tahun dan memiliki sekitar 50 relawan tetap yang tersebar di Surabaya dan Malang.
"Kami punya 40-50 volunteer tetap, jumlahnya bisa ratusan, bahkan sebelum pandemi pernah sampai ribuan volunteer yang kita ajak untuk bekerjasama jika ada event," jelas Titis.
Garda Pangan memiliki beberapa program unggulan yang masih berjalang hingga saat ini, diantaranya :
1. Food RescueProgram ini adalah menyelamatkan makanan layak yang berlebih yang harus dimusnahkan karena SOP yang berlaku. Biasanya makanan ini banyak terdapat di katering acara pernikahan, atau acara lainnya, ada juga di dunia perhotelan, pariwisata, dan juga bakery.
Program food rescue saat ini jumlahnya memang cenderung menurun, seiring dengan jumlah event yang baru akan bangkit lagi menyusul masa PPKM dilonggarkan.
"Karena jumlah wedding dan event menurun, program ini sementara belum berjalan maksimal." ucap Titis.
2. Gleaning PanganBerawal dari banyak keluhan para petani datang kepada Garda Pangan saat masa pandemi. Umumnya mengeluhkan hasil tani mereka yang tidak laku dibeli pemborong, sehingga terbuang begitu saja tanpa sempat terjual.
"Para petaninya sudah kehabisan pasar, tomat dibuang-buang dipinggir jalan, itulah yang menjadi landasan kami bergerak di Gleaning," papar Titis.
Program ini baru masif saat pandemi Covid-19, dan terus berjalan sampai detik ini. Sekarang, program ini sudah menjadi 'Lumbung Alum' bagi Garda Pangan.
"Kita punya Lumbung Alum sendiri dari hasil-hasil para petani, yang bisa dijadikan sumber dana operasional sendiri. Lumbung Alum ini menyelamatkan hasil tani yang berpotensi terbuang, dimana seluruh profit akan disalurkan untuk distribusi makanan warga pra sejahtera." terang Titis
3. Program wedding dan eventProgram ini sempat berjaya saat sebelum pandemi Covid-19, di mana banyak sekali event yang dilaksanakan oleh Garda Pangan. Namun sekarang, program ini belum berjalan secara maksimal kembali.
4. Campaign tentang food wastageWastage sendiri terbagi menjadi dua, food waste dan food loss, food wasta9e seduh sempat dijelaskan sedikit oleh penulis. Food Waste adalah makanan yang masih bisa dikonsumsi oleh manusia namun dibuang begitu saja dan akhirnya menumpuk di TPA.
Baca juga : Muslim Harus Menjaga Kesucian Makanan sebagai Syarat Sah BeribadahFood waste yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana dan karbondioksida. Sedangkan keduanya tidak sehat untuk bumi.
Sedangkan food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayuran,buah-buahan atau makanan yang masih mentah namun sudah tidak bisa diolah menjadi makanan dan akhirnya dibuang begitu saja.
5. Kids EducationSelain ekspansi ke kota Malang, Garda Pangan juga memiliki program Kids Education, yang berisi tentang arahan untuk anak kecil dalam menyikapi makanan. Kelak agar dewasa nanti diharapkan bisa menjadi tonggak-tonggak perubahan ke arah Indonesia yang lebih maju.
Garda Pangan memiliki sistem yang baik dalam distribusi, diakui oleh Titis, sebelum ada survey dan hasilnya, Garda Pagan tidak akan dikirim terlebih dahulu. Artinya ada screening yang harus dilakukan terlebih dahulu kata Titis.
"Tidak sekedar berbagi di terminal atau pasar yang dalam pandangan mata terlihat membutuhkan, Garda Pangan selalu survei terlebih dahulu, mulai dari jumlah penerima, melihat kelayakan, dan penerima betul-betul yang membutuhkan manfaat."
Untuk daerah Surabaya dan sekitarnya, Garda Pangan sudah memiliki database titik-titik yang menjadi perhatian untuk pendistribusian yang membutuhkan waktu cepat.
"Saat ini kami sudah punya data sendiri yaang akurat untuk tempat pendistribusian."
Atas kinerja yang terpercaya dari gerakan Garda Pangan ini, akhirnya membuahkan hasil tidak terlalu sulit untuk mencari donatur.
"Mencari donatur yayasan di awal-awal gerakan adalah kita menawarkan ke banyak pihak, mulai dari industri hospitality, bakery, dan lain-lain, kita menawarkan food waste management." Kata Titis
"Sekarang seiring berjalannya waktu, justru orang-orang yang datang kepada kita dengan penuh kesadarannya." Imbuhnya.
Baca juga : Weh-wehan, Tradisi Berbagi Makanan di Kaliwungu KendalTitis mewakili manajemen berharap ada gerakan Garda Pangan diseluruh kota-kota besar di seluruh Indonesia.
"Di dunia maya, banyak yang menanyakan apakah bisa hadir di tempat lain, saya berharap ke depan Garda Pangan bisa hadir di seluruh kota di Indonesia." Pungkasnya.
(est)