LANGIT7.ID, Jakarta - Mengasuh pondok di usia muda gampang-gampang susah. Hal itu yang dirasakan Ustadz Muhammad Faishal Fadhli, pengasuh Pondok Pesantren Islam Al-Anshor Putri. Umurnya masih tergolong muda. Lahir di Jakarta pada 3 Desember 1993 lalu. Namun kini, ia telah memikul beban berat.
Pondok Pesantren Islam Al-Anshor Putri terletak di di Dusun Way Bayas, Kelurahan Panjerejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Pondok itu didirikan sebagai jawaban atas problematikan ummat di tengah perkembangan zaman yang sangat cepat. Perkembangan teknologi dengan segala kemudahan yang ditawarkan membuat Sebagian masyarakat terjebak dalam lingkaran ketidakjelasan akidah, meremehkan ibadah, dan kerusakan ahlak.
Fenomena itu terjadi lantaran tidak diiringi perkembangan pendidikan yang berbasis islami. Lembaga pendidikan mayoritas fokus pada kemampuan kognitif saja, namun lemah dalam mengawal sikap pemahaman agama.
Ustadz Faishal menyebut, Pondok Pesantren Islam Al Anshor Putri oleh para pengurus Yayasan Pendidikan Islam Al Anshor Lampung didirikan dengan harapan bisa menjadi solusi atas problematika tersebut. Pesantren yang berdiri di atas tanah 9.550 m2 itu mulai beroperasi pada Juli 2014 silam. Usia yang masih muda, semuda pengasuhnya.
Pondok Pesantren Jadi Benteng ummat IslamAmanah yang dipikul Ustadz Faishal memang berat. Namun, dia tak pernah mengeluh dan menyadari pondok pesantren adalah benteng terakhir pertahanan ummat Islam. Kaum santri yang menjadi harapan masyarakat untuk tampil sebagai agen perubahan, melakukan ishlah (perbaikan), serta menjaga ummat dari kedangkalan aqidah dan kerusakan akhlak.
“Kalimat ini selalu disampaikan berulang-ulang oleh para kiai dan asatidz yang saya jumpai di setiap pondok pesantren tempat saya menimba ilmu. Redaksinya memang sedikit berbeda, tetapi substansinya sama. Baik itu ketika menjadi santri di SMPIT Al-Muttaqin Cirebon, Darusy Syahadah Boyolali, Ma’had Aly An-Nuur Sukoharjo, dan Universitas Islam Darussalam Gontor, semua guru-guru menanamkan nilai yang sama; jadilah insan bermartabat dan bermanfaat di tengah ummat,” kata Ustadz Faishal kepada LANGIT7.ID.
Sibghah para Kyai itu betul-betul terpatri dalam sanubari. Berangkat dari situ, Ustadz Faishal memutuskan untuk kembali ke pesantren setelah kuliah. Awalnya tidak terpikir akan diberi amanah menjadi mudir (pimpinan atau pengasuh) pondok pesantren. Sebab, selama ini, karir di dunia kepondokan hanya sebagai bagian perpustakaan dan guru biasa.
“Kalau boleh cerita, mungkin, pengalaman mengajar paling berharga yang pernah saya dapat sebelum menjadi mudir adalah ketika bertugas menjadi ustadz muda atau guru wiyata bakti di Ponpes Islam Haji Miskin, Summatera Barat, 10 tahun lalu. Ketika itu, usia saya belum genap 18 tahun tapi sudah diamanahi untuk mengampu berbagai mata pelajaran penting dengan jam pelajaran yang sangat banyak; 48 jam dalam satu pekan,” ucap beliau.
Setahun pengabdian di ranah minang begitu berkesan. Ustadz Faishal sangat bersyukur pernah berkiprah di kampung halaman para ulama dan negarawan. Setelah selesai masa tugas, beliau kembali ke Jawa untuk kuliah. Kurang lebih tujuh semester menjalani pendidikan di Ma’had Aly (pesantren tinggi setingkat S1). Sampai pada 2016, lulus dan kembali bertugas menjadi guru.
Selama empat tahun, dari 2016-2020, di sela-sela kegiatan menjadi staff pengajar di Ma’had Aly Darusy Syahadah dan Ma’had Aly Darul Ulum, waktu luang saya manfaatkan untuk membaca dan menulis artikel. Terkadang juga menyampaikan taushiyah dan tabligh akbar di luar pondok.
“Nah, pengalaman terjun langsung menjadi da’i di tengah masyarakat inilah yang membuat saya merasa tertuntut untuk kembali mengasah diri dan memperluas wawasan. Alhamdulillah, setahun lalu, diterima sebagai peserta program kaderisasi ulama (PKU) Unida Gontor,” ucap dia.
Ustadz Faishal tidak menampik salah satu motivasi siap mengasuh pondok adalah saat mengikuti pelatihan PKU. Saat di Gontor, ia pernah mengikuti acara Khtubatu Al-‘Arsy. Di acara itu, ditanamkan nilai-nilai perjuangan dengan menelusuri kembali jejak Trimurti.
“Maa sya’a Allah, jujur, saya merasa tersihir. Ruh keikhlasan dan pengorbanan Trimurti seakan merasuk ke dalam diri ini. Sejak saat itu, salah satu satu doa dan impian saya adalah; kelak di usia 40-an, ingin membangun Pondok Pesantren dan mempunyai santri yang berkualitas tinggi,” tutur beliau.
Rupanya cita-cita itu terwujud lebih cepat dari impian. Beberapa bulan setelah selesai PKU, kawan lama menghubungi Ustadz Faishal via aplikasi pesan singkat. Ia menyebut kawan lama itu termasuk perintis pondok dan yang membidani lahirnya Ponpes Islam Al Anshor Putri Pringsewu, Lampung. Kawan lama itu langsung meminta kesediaan Ustadz Faishal menjadi mudir di pondok tersebut.
“Saya kaget mendengar permintaan itu; apakah ini jawaban dari doa saya? Kenapa secepat ini? Begitulah, ketika permohonan kita diijabah oleh Allah, terkadang kita malah belum benar-benar siap untuk menyambutnya,” turur dia.
Menerima amanah itu tentu bukan perkara mudah. Ia memutuskan istikharah dan istisyarah. Ia istikharah meminta petunjuk terbaik dari Allah SWT. Istisyarah; meminta pendapat, arahan, ridha dan restu dari orang tua juga para guru.
Tiga bulan kemudian, barulah ia bisa memberi jawaban dan mengiyakan permohonan kawan lama itu untuk menjadi mudir. Tentu setelah melakukan pertimbangan yang matang. Ia berharap itu menjadi pilihan yang terbaik.
Saat Anak Muda Memimpin Pondok PesantrenSecara umum, kata Ustadz Faishalm tantangan pengasuh ponpes adalah bagaimana menjadi uswah hasanah; teladan yang baik bagi santri-santri. Baik itu dalam hal spiritual, sosial maupun intelektual. Secara khusus, dia sebagai pengasuh muda, selain harus lebih dekat lagi dengan Allah, harus berpikir cara menyadarkan para santri bahwa mereka bukan sekedar belajar kemudian lulus, dapat ijazah, kuliah, kerja, nikah. Tapi, lebih dari itu, sesungguhnya mereka adalah kader yang akan meneruskan estafet perjuangan menegakkan agama Islam.
Dalam menjalankan amanah, ia tak berjalan sendiri. Sering ia bertanya kepada sesepuh, kiai, hingga orang-orang yang memiliki pengalaman dalam membina pondok. Bagi dia, anak muda memang punya semangat tinggi, tapi semangat itu harus diimbangi dengan kebijaksanaan para tetuah.
Pepatah Arab mengatakan, “Thubaa liman jama’a baina hikmati asy-syuyukh wa himmati asy-syabab.” Artinya; beruntunglah orang yang mampu menggabungkan kearifan para sesepuh dan semangat para pemuda. Dari sini dapat disimpulkan bahwa untuk meraih kesuksesan dalam mengelola suatu organisasi atau lembaga manapun, harus ada sinergi dan kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda. Sinergi dan kolaborasi itu, tidak akan terwujud tanpa rasa percaya. Jadi, masing-masing harus saling memercayai dan bisa dipercayai.
Awalnya, Ustadz Faishal merasa minder dan berkecil hati. Namun ia disemangat KH Mustaqim Safar, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Islam Darusy Syahadah, bahwa yang menjadi persoalan itu bukan masalah tua atau muda. “Semua orang dibiarkan begitu saja lama-lama juga akan menjadi tua. Tapi belum tentu yang tua itu bisa bersikap dewasa,” begitu bunyi pesan itu.
Secara implisit KH Mustaqim Safar berpesan, “Meskipun masih muda, kamu harus bijaksana dan bersikap dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan. Mampu menghargai orang lain, siapapun itu. Belajarlah untuk berpikir tenang dan matang.”
Rasa percaya diri mulai bertumbuh setelah mendengar wejangan tersebut. Ditambah lagi Ust. Dr. Ryan Arif Rahman, musyrif penulisan tugas akhir ketika di PKU Unida juga ikut mendoakan dan menyemangati Ustadz Faishal dalam mengambil keputusan itu.
“Tinggal bagaimana ke depannya saya bisa survive di tempat tugas baru dan sukses dalam mengemban amanah yang pertanggung jawabannya luar biasa. Semoga Allah mudahkan,” ucap Ustadz Faishal.
Warna Kepemimpinan Ustadz FaishalDi Ma’had Al Anshor ada dua unit yakni Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Diniyah Tahfidzul Qur’an (MADITAQ). Usia santrinya sama, setingkat aliyah atau SMA. Hanya saja, SMA terdaftar secara formal di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek), sedangkan MADITAQ terdaftar di Kemneterian Agama (Kemenag).
Ustadz Faishal menyebut SMA Islam Al Anshor Putri mengusung visi; mencetak kader saintis muslimah yang bermutu dan berarti. Shalilhah, berakhalak mulia, dan berprestasi. Jadi, bagaimana memadukan antara IMTAQ dan IPTEK. Adapun untuk MADITAQ (Madrasah Diniyah Tahfidzul Qur’an) fokusnya adalah mencetak kader hafidzhah. Mampu menyelesaikan hafalan 30 juz dan bagus tajiwd-tahsinnya. Profil alumni dari unit ini diharapkan mampu menjadi muhafidzhah yang mutqin dan bersanad.
Visi pondok secara umum, menjadi lembaga pendidikan yang islami dan berkemajuan. Sebab, ada yang islami tapi tidak berkemajuan. Dan sebaliknya, ada yang maju tapi tidak islami. Kemudian, untuk mencapai semua visi itu, misi yang dijalankan adalah memaksimalkan program tahfidz al-Qur’an, dan percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Arab dan Inggris.
(asf)