LANGIT7.ID - Pengasuh Majelis Darul Murtadza Malaysia, Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid, menceritakan adab Imam Malik dan Imam Syafi’i saat menuntut ilmu. Adab menjadi kunci warisan keilmuan dua imam tersebut kekal hingga kini. Warisan ilmu keduanya selalu hadir jadi solusi dalam setiap permasalahan umat Islam hingga hari ini melalui fatwa-fatwanya.
Suatu ketika salah seorang murid Imam Malik bercerita perihal adab salah satu Imam Mazhab itu. Murid itu mengaku belajar selama 20 tahun di hadapan Imam Malik. 18 tahun belajar adab dan 2 tahun belajar ilmu.
“Andai saya gunakan 20 tahun itu belajar adab saja, sebab ilmu Imam Malik saya boleh jumpa pada orang lain, tapi adab yang ada pada Imam Malik saya tak jumpa pada orang lain,” kata Habib Ali menirukan perkataan murid Imam Malik itu, dikutip kanal youtube ARW Picture, Rabu (15/12/2021).
Hal itu menunjukkan kesempurnaan adab seorang ulama sekelas Imam Malik. Bahkan diceritakan Imam Malik ketika berada di Madinah selalu berjalan kaki. Ia tak ingin mengendarai kuda ataupun keledai karena khawatir menginjak bekas pijakan Rasulullah dan para sahabat.
Baca Juga: Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, Dicontohkan Sahabat Hingga Tabiin
Selain itu, Imam Malik saat hendak menyampaikan hadits Rasulullah, terlebih dahulu berwudhu dan berhias. Diriwayatkan dari Ibnu Uwais berkata tentang Imam Malik; “ Apabila Imam Malik hendak menceritakan hadits, dia berwudhu, duduk di depan permadaninya, menyisir jenggotnya, dan duduk dengan tenang penuh wibawa.”
Ketika salah seorang murid Imam Malik bertanya, “Mengapa engkau selalu memulainya dengan wudhu sebelum mengajarkan hadits?”
“Aku ingin hadits dari Rasulullah yang aku sampaikan dapat dipahami dengan baik.” jawab Imam Malik.
Bahkan pernah suatu ketika wajah Imam Malik pucat merah saat membacakan sebuah hadits. Namun tetap melanjutkan pembacaan hadits. Usai membacakan hadits, ia memanggil seorang muridnya untuk melihat ke punggungnya.
Didapati seekor kalajengking sudah menyengat sang imam berkali-kali. Namun ia tak menghiraukan itu dan terus melanjutkan pembacaan hadits nabi hingga selesai.
Sang Imam juga dikenal sangat perhatian dengan para muridnya saat membacakan hadits. Ia tak ingin ada satupun murid yang cuek dan bermain-main saat hadits dibacakan. Suatu ketika saat membaca hadits, ia mendapati Imam Syafi’i yang duduk di tengah murid-murid lain sedang menempelkan ujung jari ke lidah untuk mencatat sesuatu ke telapak tangan.
“Waktu itu belum ada kertas macam kita sekarang,” kata Habib Ali.
Setelah majelis selesai, Imam Malik memanggil Imam Syafi’i dan ditanya, “Apa yang kamu buat sementara aku menyampaikan hadits?”
“Saya mencatat hadits yang engkau bacakan. Saya ingin berusaha menghafal apa yang saya catat di telapak tangan saya.” Jawab Imam Syafi’i.
Namun, saat diminta mengulang hadits tersebut, Imam Syafi’i langsung membacakan persis seperti hadits yang disampaikan Imam Malik. Kekuatan hafalan Imam Syafi’i terletak dari adab beliau setiap hari.
Baca Juga: Nasihat Imam Syafii: Syarat dan Adab Menuntut Ilmu
Imam Syafi’i memiliki hati yang bersih. Matanya tidak pernah melihat maksiat dan telinga hanya mendengar yang baik-baik saja. Sehingga setiap kebaikan yang dia dengar, langsung bisa dihafal.
Suatu ketika Imam Syafi’i mengadu kepada gurunya Waki’ perihal hafalannya yang melambat. Itu diabadikan dalam sebuah syair yang sangat terkenal.
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukkan padaku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).
(jqf)