LANGIT7.ID, Jakarta - Kematian adalah kepastian bagi setiap makhluk yang bernyawa. Karenanya seorang muslim hendaknya mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya.
Sejatinya, usia manusia ibarat sebuah buku. Tanpa diisadari, dia sedang melewati lembar per lembar buku tersebut menuju halaman terakhir, buku tersebut pun akan menjadi saksi apakah lebih banyak catatan kebaikan yang kita torehkan atau catatan keburukan yang terus kita lakukan tanpa ada rasa penyesalan dan keinginan bertaubat.
Khatib Jumat perlu terus mengingatkan pentingnya menyiapkan kematian bagi seoarang muslim. Berikut lima tema khutbah Jumat tentang mempersiapkan kematian dengan amal saleh.
1. Menjaga KesehatanKesehatan adalah amanah dari Allah yang perlu dijaga dan disyukuri. Oleh karenanya, menjaga kesehatan sama dengan menjaga amanah Allah yang diwujudkan dalam bentuk mengonsumsi makanan yang sehat dan halal serta tidak berlebih-lebihan.
Baca Juga: 5 Tema Khutbah Jumat: Pentingya Mitigasi Bencana dan Bijak Hadapi MusibahFirman Allah dalam Surat Al A’raf ayat 31:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
Artinya: Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.
2. Memperisapkan Amal SalehIslam memandang orang yang cerdas adalah yang mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya. Bersiap dengan kematian artinya memerbanyak amal saleh yang akan menjadi bekal untuk menjalani kehidupan setelah kematian.
Baca Juga: Akses ke Arab Saudi Dibuka, Ini Tema Khutbah Jumat soal Umrahالكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
Artinya: Orang cerdas adalah orang yang rendah diri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian, dan orang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya dan berangan-angan atas Allah. (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya).
3. Beratnya Sakaratul MautDisebutkan dalam berbagai riwayat bawha kematian itu lebih mengerikan daripada tertusuk seribu pedang, dibelah dengan gergaj, atu dipotong dengan gunting. Memahami dahsyatnya derita sakrataul maut hendaknya mendorong seorang muslim terus memperbanyak amal saleh dan tidak lalai dengan kenimkatan duniawi.
Kematian perlu disipakan sebaik-baiknya dengan meningkatkan amal-amal saleh. Mengingat kematian pada saat hidup perlu selalu disuasanakan dengan menjenguk orang sakit, ziarah kubur, ta’ziah, menyhalatkan jenazah dan sebagainya.
4. Menjauhi Perbuatan TercelaMenjauhi perbuatan tercela sama pentingnya dengan memperbanyak amal saleh. Perbuatan tercela meliputi keharaman dan kemakruhan. Meninggalkan keharaman adalah wajib, sedangkan meninggalkan kemakruhan adalah sunah. Demikian pula dianjurkan untuk meminimalisasi perkara mubah yang tidak ada manfaatnya.
Baca Juga: Beribadah di Masjid Syura Makassar, Jamaah Makin Rindu MekkahPara ulama salaf sangat berhati-hati menjaga dirinya dari perbuatan tercela. Bagi mereka, yang urgens tidak hanya meninggalkan keharaman dan kemakruhan, namun perkara-perkara mubah yang dapat melalaikan. Sebab perbuatan makshiat akan menciptakan noda hitam di hati sehingga menjadikannya keras, enggan menerima kebenaran dan malas beribadah.
5. Membekali Diri dengan Ilmu Seputar KematianMembekali diri dengan ilmu seputar kematian sangat penting bagi seorang muslim dalam mempersiapkan kematian. Ilmu-ilmu seputar kematian di antaranya fiqih shalat jenazah, tata cara mengurus mayit, adab-adab ta’ziah.
Baca Juga: Tafsir Al Jumuah Ayat 9-11: Bersiap Menghadiri Shalat Jumat dengan SebaiknyaMempelajari ilmu seputar kematian dimaksudkan agar tidak asing dengan suasana kematian yang harus dipersiapkan. Mengingat kematian merupakan nasihat yang baik dan perlu senantiasa disuasanakan ketika hidup.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Merasa Kehilangan Sosok Almarhum Oded(zhd)