LANGIT7.ID - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya, memaparkan empat ilmu agama yang wajib dipelajari setiap muslim dan diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Bekal ilmu agama itu sangat penting agar setiap Muslim bisa menjalani kehidupan sesuai dengan aturan Allah Ta’ala.
Imam Al-Ghazali pernah berkata, anak adalah amanah bagi orang tua. Hati manusia di usia belia masih bersih, dia bisa cepat menerima apapun yang diukirkan kepadanya. Namun anak belum memiliki nalar untuk menyaring semua informasi yang didapat, sehingga orang tua sangat berperan penting memberikan pendidikan agama.
Dari situ, jika anak dibiasakan hal-hal baik pada saat masih kecil niscaya akan tumbuh sesuai dengan didikan masa kecilnya. Terlebih anak usia dini memiliki daya tangkap yang kuat. Nah berikut ini 4 materi pelajaran yang wajib diberikan kepada anak sejak dini.
Baca Juga: Prinsip Menuntut Ilmu: Tidak Pilih-pilih Guru dan Ambil Manfaat dari Manapun
1. Belajar Al-Qur’anMengajari anak membaca Al-Qur’an menjadi kewajiban pertama bagi orang tua. Al-Qur’an merupakan pedoman umat manusia agar bisa selamat dunia akhirat, maka wajar jika menjadi ilmu wajib yang harus diajarkan kepada anak.
“Ajari anak agar bisa membaca Al-Qur’an dengan baik. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah itu dalam 6 bulan bisa lancar baca Al-Qur’an. Kenapa? karena dalam membaca Al-Qur’an ada Nur (cahaya),” kata Buya Yahya melalui kanal youtube Al-Bahjah TV, dikutip Rabu (22/12/2021).
2. Pendidikan Akhlak PraktisPendidikan akhlak juga sangat penting ditanamkan kepada anak sejak dini. Pada tahap ini, anak tak perlu diajari pelajaran akhlak secara teoritis yang mengandung segudang filosofi. Pendidikan akhlak yang ringan-ringan saja, seperti taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbakti kepada orang tua, bersikap kepada saudara, dan lain sebagainya.
“Kita hanya perlu beberapa pertemuan saja, tapi perlu penekanan. Akhlak ini tak perlu akhlak teori, bangun kesadaran, bagaimana itu bersikap kepada ibumu, kakakmu dan sebagainya” kata Buya Yahya.
3. Pendidikan Akidah PraktisSama halnya dengan pendidikan akhlak praktis, anak cukup diajari hal-hal ringan saja. Tujuan utama pendidikan untuk sekadar meluruskan akidah anak terlebih dahulu, seperti cara mengenal Allah, bukan dialog falsafah yang rumit.
"Yang penting itu bagaimana agar anak-anak akidahnya benar. Bukan dialog falsafah yang panjang itu. Akidah ini ringan saja, bagaimana mengenal Allah, tidak perlu berat,” ucap Buya Yahya.
4. Pendidikan Fikih PraktisPendidikan Fikih Praktis pun demikian. Anak tak perlu diajari ilmu perbandingan mazhab, pendapat imam satu dengan yang lain. Anak cukup diajari fikih dasar seperti belajar shalat, wudhu yang benar, puasa yang benar, sekadar tahu zakat wajib, dan haji bagi yang mampu.
“Yang ringan-ringan saja. Asalkan waktu mengajarkan benar-benar, dijadikan ini materi tidak kalah dari pelajaran matematika dan lainnya. Artinya, kalau tidak lulus fikih dan akidah, jadi tidak lulus juga semuanya,” ucapnya.
Nah, waktu paling bagus mengajari anak empat materi itu harus di saat yang tepat. Misalnya saat sedang santai bersama anak.
“Paling bagus jangan mengajari anak saat dia capek, tapi karena untuk mengecas agar segar selamanya, di waktu-waktu paling bagus. Jadi ringan. Bagaimana shalat dia benar, puasa benar, dan lainnya sebagainya,” pungkas Buya Yahya.
(jqf)