Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home global news detail berita
Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34

KH Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU

Muhajirin Jum'at, 24 Desember 2021 - 05:50 WIB
KH Miftachul Akhyar Terpilih Kembali sebagai Rais Aam PBNU
Rais Aam PBNU 2021-2026 KH Miftachul Akhyar (Dok Biro Setpres)
LANGIT7.ID, Bandar Lampung - Teka-teki Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terjawab sudah. KH Miftachul Akhyar ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU periode 2021-2026. Keputusan itu ditetapkan melalui musyawarah mufakat sembilan Anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa).

Sebelum terpilih sebagai Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar merupakan pejabat sementara Rais Aam melanjutkan kepemimpinan KH Ma'ruf Amin yang mengundurkan diri pada 22 September 2018 lalu. Ia juga pernah menjabat sebagai Rais Aam PWNU Jawa Timur dua periode dan Rais Syuriyah PCNU Surabaya. Kini, KH Miftachul Akhyar juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Keputusan pemilihan KH Miftachul Akhyar ditetapkan pada Sidang Pleno IV di Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung (Unila) pada Kamis (23/12/2021) malam.

"Alhamdulillah Ahwa bahwa yang menjadi Rais Aam untuk PBNU 2021-2026 al mukarram KH Miftachul Akhyar," kata KH Zainal Abidin, salah satu anggota Ahwa.

Musyawarah dilakukan dengan penuh keakraban, kekeluargaan, keadaban, sopan santun, dan akhlak. Musyawarah tersebut dipimpin KH Ma'ruf Amin.

KH Miftachul diharapkan fokus pada pembinaan dan pengembangan NU ke depan. Kemudian, pertimbangan para anggota Ahwa agar saat muncul calon ketua tanfidziyah diharapkan Rais Aam menerima semua bakal calon itu.

Baca Juga: Masa Kecil dan Kiprah Ketua MUI KH Miftachul Akhyar

Sistem Ahlul Halli Wal Aqdi
Sidang pleno Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) sebelumnya telah menentukan tim Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) telah selesai dilakukan pada Kamis (23/12/2021). Sidang yang berlangsung di Kampus Universitas Lampung (Unila) itu menetapkan 9 sesepuh NU yang bertugas memilih Rais ‘Aam PBNU periode 2021-2026.

Kesembilan sesepuh NU itu adalah KH Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, KH Miftachul Akhyar, TG Turmudzi, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Dimyati Rois, KH Ali Akbar M, dan KH Zainal Abidin.

Merujuk tata tertib Muktamar NU, pemilihan Rais ‘Aam PBNU disepakati menggunakan Ahwa. Dengan sistem itu, Rais ‘Aam akan dipilih oleh 9 orang yang mendapat mandate PCNU dan PWNU menjadi Ahwa. Model Ahwa menitikberatkan pada pendekatan musyawarah mufakat.

Sistem pemilihan Ahwa merupakan tradisi yang lama berkembang di NU. Penerapan sistem tersebut untuk memperkuat syuriyah, dalam hal ini Rais ‘Aam. Selain itu, Ahwa dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan dalam pemilihan Rais ‘Aam.

Perlunya penerapan kembali sistem Ahwa itu disepakati dalam rapat pleno PBNU di Wonosobo pada 2013 silam. Kala itu, sejumlah pengurus menolak meskipun akhirnya menyepakati perlunya sistem lama itu untuk diterapkan kembali.

Profil Singkat 9 Anggota Ahwa:

1. KH Dimyati Rois

KH Dimyati Rois atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abah Dim lahir pada 5 Juni 1945 di Tegal Glagah Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Ia merupakan putra kelima dari sepuluh bersaudara dari pasangan KH Rois dan Nyai Djusminah.

Usai menyelesaikan pendidikan formal, sekitar 1956 ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren APIK, Kauman, Kaliwungu, Kendal di bawah asuhan KH Ahmad Ru’yat. Ia nyantri di pondok itu selama kurang lebih 14-15 tahun. Saat ini, ia didapuk menjadi Pengasuh Pesantren Apik Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

2. KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Nama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Ia lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 10 Agustus 1944 dari pasangan KH Bisri Mustofa dan Nyari Marafah Cholil.

Sang ayah merupakan pengarang Kitab Tafsir Al Ibriz li Ma’rifah. Sementara sang kakek, KH Zaenal Mustofa, adalah seorang saudagar ternama yang dikenal sangat menyayangi ulama.

Pada 1955, Zaenal bersama keluarganya mendirikan Taman Pelajar Islam (Roudlotut Tholibin). Pondok pesantren itu kini diasuh Gus Mus. Alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo untuk studi Islam dan Bahasa Arab itu sebelumnya menempuh pendidikan di SR selama 6 tahun (1950-1956), Pesantren Lirboyo Kediri (1956-1958), Pesantren Krapyak Yogyakarta (1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam Rembang (1962-1064).

3. KH Ma’ruf Amin

KH Ma’ruf kini menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia. Ia lahir di Kresek, Tangerang, pada 11 Maret 1943. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten. Ayahnya, Mohamad Amin dan kakeknya adalah seorang kiai.

Sebelum masuk pesantren, Ma’ruf Amin sempat menempuh pendidikan dasar di sekolah rakyat di Kecamatan Kresek. Dia lalu melanjutkan studi di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari. Dia lalu meraih gelar di bidang filsafat Islam dari Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, Jawa Barat. Sebelum menjabat sebagai wakil presiden RI, ia memiliki pengalaman legislative sejak 1971 hingga 1999.

4. KH Anwar Manshur

KH M Anwar atau Mbah War lahir di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Ia merupakan putra dari pasangan KH Manshur Jombang dengan Nyai Salamah, putri ketiga pendiri Pesantren Lirboyo KH Abdul Karim.

Sejak kecil, dia diasuh di Lirboyo. Riwayat pendidikannya dimulai dengan membina ilmu di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan selanjutnya melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri. Ia kini mengasuh Pondok Pesantren Lirboyo.

5. TGH Turmudzi Badaruddin

Tuan Guru Bagu atau kerap disapa Tuan Guru Haji (TGH) Turmudzi Badaruddin lahir pada Rabu 1 April 1936 di Bagu. Ia merupakan putra dari pasangan TGH Raden Badaruddin dan Hj Aminah binti Haji Ridwan.

Setelah belajar dari sang ayah, ia lalu berguru agama kepada seorang tuan guru legendaris di Pulau Lombok, yakni Tuan Guru Shaleh Hambali Bengkel, pendiri Pondok Pesantren Darul Qur’an. Di sini, ia menimba ilmu selama 14 tahun, sejak 1944-1958.

Saat ini, TGH Turmudzi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu, Lombok Tengah, NTB.

6. KH Miftachul Akhyar

KH Miftachul Akhyar lahir pada 1953. Dia merupakan putra kesembilan dari 13 bersaudara dari KH Abdul Ghoni, pengasuh Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Ayah beliau merupakan karib KH M Usman Al-Ishaqi Sawahpulo saat sama-sama nyantri kepada KH Romli d Rejoso, Jombang.

Kiai Miftachul Akhyar mondok di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Pondok Pesantren Rejoso. Kemudian di Pondok Pesantren Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Ia juga pernah belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Lalu di Pondok Pesantren Lasem, Jawa Tengah. Selanjutnya di Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Makki Al-Maliki di Malang, tepatnya ketika Sayyid Muhammad masih mengajar di Indonesia.

KH Miftachul Akhyar adalah pengasuh Pondok Pesantren Muftachus Sunnah Surabaya, sebuah paku bumi bagi kota Surabaya, ibu kota Jawa Timur.

7. KH Nurul Huda Jazuli

KH Nurul Jazuli merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Dia dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli yang merupakan muassis Pondok Al-Falah Ploso. Dia selalu berpesan tentang pentingnya memondokkan anak di pondok pesantren.

Dia juga kerapkali berpesan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan pesantren besar, sehingga tidak ada alasan bagi para santri untuk tidak menjaga dan mengurus NU.

8. KH Ali Akbar Marbun

KH Ali Akbar Marbun lahir di desa Siniang Kecamatan Pakkat, Humbang Hasundutan, letaknya kira-kira lebih kurang 28 kilo meter dari Kota Barus, Tapanuli Tengah atau 280 km dari Kota Medan.

Dia merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Buyung Marbun dan Hj Chadijah br. Nainggolan. Kedua orang tuanya merupakan petani. KH Ali Akbar Marbun kemudian dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Medan, Sumatera Utara.

9. KH Zainal Abidin

KH Zainal Abidin merupakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah. Ia juga menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu.

Dalam karir akademik, dia menjadi guru besar (profesor) dan Rektor pertama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)