LANGIT7.ID - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, KH Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya, mengatakan, kunci penting seorang murid mendapatkan ilmu dan keberkahan adalah
mahabbah (cinta) adalah adab dan rasa cinta kepada guru.
Namun ia menegaskan, cinta berbeda dengan urusan syahwat. Cinta dan syahwat merupakan dua emosi yang berbeda. Tidak bisa digabungkan, apalagi disamakan. Makna cinta kerap tercederai oleh kemerosotan moral di kalangan remaja, yang kerap menggunakan kata cinta untuk mengumbar syahwat.
“Syahwat itu sendiri, cinta itu sendiri. Jangan digabungkan, seolah-olah kalau bicara cinta itu babnya syahwat. Karena biasa bicarakan cinta anak muda yang dibarengi dengan syahwat. Syahwat bisa terjadi tanpa cinta. Orang yang mengumbar syahwat di pinggir jalan melayani hidung belang tanpa cinta. Bahkan berpisah pun tidak ada kesedihan,” kata Buya Yahya, dikutip kanal youtube Al-Bahjah TV, Senin (27/12/2021).
Cinta tidak bisa diungkapkan oleh lisan, namun ia memiliki tanda. Jika ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maka harus ada
mahabbah yang terwujud dalam bentuk adab kepada seorang guru. Buya Yahya menyebut 3 tanda
mahabbah seorang murid kepada guru, antara lain:
1. Sering Mendoakan GuruImam Ahmad bin Hambal merupakan teladan dalam hal ini. Setiap melaksanakan shalat dua rakaat, dia selalu mendoakan sang guru, yakni Imam Syafi’i. Itu merupakan salah satu bentuk cinta seorang murid kepada guru.
Buya Yahya menjelaskan, mendoakan guru sama sekali bukan untuk kepentingan guru. Tanpa didoakan pun, guru sudah didoakan oleh para malaikat dan seluruh penghuni laut. Tapi, mendoakan guru merupakan kepentingan murid itu sendiri. Mendoakan guru adalah salah satu cara menurunkan ilmu dan keberkahan.
“Sisihkan waktu sejenak menyebut nama-nama guru dalam doa. Doa yang disertai dengan cinta. Saat kita mendoakan guru kita, itulah yang akan menurunkan ilmu dan keberkahan, dan manfaat,” kata Buya Yahya.
Hal ini menjadi jawaban banyak murid bisa jadi lebih hebat daripada sang guru. Karena murid memiliki ketulusan hati dalam belajar, mendoakan, mencintai dan selalu memberikan hormat kepada guru. “Guru punya ilmu 5, murid bisa punya 10 karena ketulusan hati. Ini yang perlu dihadirkan,” ucapnya.
2. Menyebut Kebaikan dan Menyembunyikan Kejelekan GuruPerkara ini sangat penting. Membicarakan kebaikan guru adalah penyebab cinta. Ketika seorang menceritakan kebaikan guru kepada keluarga, kawan, dan lain sebagainya maka akan menumbuhkan rasa cinta di hati mereka. Tentu kecintaan kepada sang guru bagi orang yang menceritakan itu kian bertambah.
“Karena kita menjadikan kawan kita cinta kepada guru, maka Allah akan memberikan kepada kita mahabbah kepada guru,” ucap Buya Yahya.
Dia mengingatkan agar tidak menjadi murid perusak. Kesalahan guru selalu diekspos sehingga menyebabkan ia jelek dimata orang lain. Namun perlu diketahui, yang rusak adalah murid itu sendiri. Sebab, guru adalah manusia biasa yang tak luput dari berbuat salah.
“kalau mencari guru yang tidak bersalah, sampai mati tidak akan punya guru,” ucapnya.
KH Hasyim Asy’ari dalam
Adabul Alim Wal Muta’allim menyebutkan, para ulama terdahulu jika hendak berangkat belajar, dia bersedekah terlebih dahulu. Saat bersedekah ia berdoa agar Allah menutup semua aib-aib guru darinya.
“Jika ada murid yang mencari kesalahan guru, berarti dia telah memangkas kemanfaatan ilmu. Makanya kami itu sedih dengan munculnya media sosial. Memfitnah ulama sangat marak, akhirnya banyak orang benci kepada ulama. Kalau ada video yang berkomentar jelek kepada seorang ulama, maka tutup saja. Tidak usah tonton,” tutur Buya Yahya.
3. Tidak Membiasakan Prasangka Buruk Kepada GuruBuya Yahya menjelaskan, prasangka buruk mesti dihilangkan dalam diri seseorang. Prasangka buruk harus diubah menjadi prasangka baik. Memang bukan pekerjaan mudah, tapi harus tetap dilakukan. Upaya menyingkirkan prasangka buruk itu bisa dilakukan dengan pikiran dan hati. “Doakan dengan kebaikan, lalu mohon ampun kepada Allah,” ucap Buya Yahya.
Nah, itulah 3 kunci sukses jika seorang murid ingin mendapatkan ilmu dan keberkahan dari Allah Ta’ala. 3 kunci sukses itu merupakan amalan para ulama-ulama terdahulu saat belajar. Bahkan saat sudah menjadi guru pun, mereka selalu mendoakan para gurunya, dan selalu menceritakan kebaikan mereka.
(jqf)