Gerakan oposisi yang masif membuat Khalifah Utsman bin Affan patah arang. Ia mengeluh: Aku rendahkan bahuku dan aku tahan tangan dan lidahku dari menyakiti kalian, tapi kalian jadi berani dan bersikap lancang kepadaku!
Kisah Muhammad Al-Hanafiyah mengajarkan nilai kepemimpinan Islam yang inspiratif. Putra Ali bin Abi Thalib ini menolak tawaran kekuasaan dan harta demi mencegah perpecahan umat. Keteladanannya dalam menjaga persatuan Islam masih relevan sebagai panduan menghadapi konflik di era modern.
Orang tua adalah kunci utama dalam hal mendidik dan mengasuh anak. Dalam Islam, ada sejumlah metode parenting tepat untuk mendidik anak berdasarkan Al-Qur'an dan hadits.
Motivator Muslim Indonesia, Kiki F Wijaya mengatakan terdapat empat kesulitan menurut Ali bin Abi Thalib yang pasti dan pernah dialami oleh semua orang.
Menurut Ali karramallahu wajhah, makna ayat di atas, yakni addibhum waallimhum, didiklah mereka dengan adab dan ilmu. Dengan begitu anggota keluarga akan memiliki pemahaman yang baik tentang agama dan berakhlak mulia.
Dikisahkan, kedua cucu kesayangan Rasulullah itu pernah merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa berhias dengan baju baru. Kisah ini tercantum dalam dalam kitab Al-Amali, yang diriwayatkan oleh Ibn Syahr dari al-Ridha.
Pada 21 Ramadhan 40 H, Ali bin Thalib dibunuh setelah shalat Shubuh. Kesyahidan Sayyidina Ali telah diceritakan Ibnu Katsir dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah.
Kufah juga tercatat sebagai salah satu dari tiga kota terpenting bagi penganut Syiah, selain Karbala dan Najaf. Kufah juga memiliki keterkaitan dalam peristiwa Karbala.
Sosok Ali bin Abi Thalib merupakan sahabat yang dikenal kecerdasannya. Selain menjabat khalifah, pemuda ini juga menikahi anak Rasulullah, Fatimah Azzahra.
Suatu hari Ali bin Abi Thalib sangat kaget dengan penampilan putrinya. Beliau merasa ada yang aneh. Bagaimana tidak, putrinya mengenakan perhiasan gemerlap.