Indonesia diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan ekonomi 4,5-5 persen di 2023. Angka tersebut bisa dikatakan, Indonesia masih jauh dari resesi dan krisis.
Menteri Kooerdinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan sejumlah lembaga keuangan dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2023 cukup baik
Menurutnya, indikator sukses pembangunan saat ini bukan hanya dilihat dari nilai positif pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kesejahteraan dan kebahagiaan yang dinikmati secara merata.
Pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya indikator keberhasilan pembangunan nasional. Hal yang juga penting adalah tingkat kebahagiaan masyarakat di negara itu.
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Sebab kondisi masyarakat saat ini masih dalam pemulihan pandemi Covid.
IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat signifikan dari 6,1 persen di tahun 2021 menjadi 3,2 persen di tahun 2022 dan menjadi 2,9 persen di tahun 2023.
Jokowi mengatakan untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah akan terus mendorong ekspansi produksi yang konsisten untuk membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.
Desa wisata menjadi titik awal pengungkit pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 sehingga pemerintah terus mendorong pergerakan ekonomi desa. Salah satunya melalui pengembangan desa wisata.
OJK mencatat, sejak diluncurkan lima tahun lalu, saat ini telah berdiri sebanyak 62 BWM yang tersebar di 20 provinsi di seluruh Indonesia. Kehadiran BWM telah dirasakan manfaatnya oleh lebih dari 55 ribu nasabah.
OJK mencatat sektor jasa keuangan tetap stabil dan terus bertumbuh di awal tahun ini. Sebab terjadi peningkatan fungsi intermediasi di sektor perbankan dan IKNB.