Cendekiawan Yudi Latif, menilai Pancasila merupakan jelmaan Piagam Madinah dalam konteks multikultural. Selain itu, Pancasila juga memuat enam inti moral publik.
Cendekiawan, Yudi Latif, menilai silaturahmi menjadi syarat menciptakan kerukunan di tengah kemajemukan dan keragaman di Indonesia. Terlebih kebutuhan dalam merawat kemajemukan itu semakin mendesak akibat dampak globalisasi.
Cendekiawan Yudi Latif, menilai, kebangkitan dan kejatuhan suatu peradaban atau bangsa, dipengaruhi dua faktor penting yakni faktor determinan yang terwariskan dan faktor determinan modal manusia. Ini bisa dilihat dari sejarah perkembangan peradaban masa lalu.
Prof Oman juga berharap para santri di Indonesia mempunyai pemahaman tentang keislaman, kebangsaan, dan keindonesiaa harus mulai dari membangun kesadaran betapa beragamnya Indonesia.
Ia menilai bahwa lahirnya bangsa Indonesia ini mengajarkan pada dunia betapa nilai ketuhanan dan keimana itu bertahta pada silakan pertama pancasila yang merupakan kesepakatan anak bangsa untuk membentuk dan membangun bangsa dan negara.
Berjihad berarti memerdekakan manusia dari perbudakan manusia. Agar hak asasi manusia setiap orang berfungsi sesuai dengan kemerdekaan mereka masing-masing.
Ada fenomena berkaitan hubungan antara beragama dan berbangsa atau bernegara. Ini tidak lepas dengan kondisi politik belakangan ini. Perbedaan pandangan politik seolah memecah pandangan bahwa yang beragama tidak berbangsa atau bernegara. Pun yang yang berbangsa atau bernegara dianggap kurang beragama.
Zuriah atau keturunan Rasulullah SAW dari berbagai kalangan di Tanah Air bersama-sama menyerukan persatuan Indonesia. Seruan itu mewakili Rabithah Alawiyah.
Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), Dr KH Jeje Zaenuddin, menilai, salah satu kendala besar masyarakat Indonesia sulit menyatukan cita-cita bersama lantaran masih ada dikotomi kaum islamis dan nasionalis.