LANGIT7.ID, Yogyakarta - Cendekiawan,
Yudi Latif, menilai silaturahmi menjadi syarat menciptakan kerukunan di tengah kemajemukan dan keragaman di Indonesia. Terlebih kebutuhan dalam merawat kemajemukan itu semakin mendesak akibat dampak globalisasi.
Menurut dia, globalisasi membawa dua dampak besar terhadap kemajemukan di Indonesia. Pertama,
take away atau menarik ke atas, yakni menarik eksistensi negara bangsa untuk dimigrasikan ke pusat-pusat pengaruh internasional.
Dulu, Indonesia menjadi pusat perjumpaan budaya dan peradaban di Indonesia, karena memang memiliki kondisi geografis yang sangat strategis. Namun, sekarang masyarakat Indonesia kian terbuka dan menerima budaya-budaya dari luar.
Baca Juga: Yudi Latif Ungkap Faktor Penentu Kebangkitan dan Kejatuhan Suatu Bangsa
“Kita lihat budaya Korea Selatan marak di Indonesia. Sekarang demam Kpop dan drakor itu luar biasa,” kata
Yudi Latif dalam Kuliah Umum Pascasarjana Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu (5/11/2022).
Kedua, globalisasi
push down yakni menekan ke bawah. Yudi Latif menjelaskan, segala sesuatu yang ditekan ke bawah akan melahirkan luberan. Luberan itu dalam bentuk kebangkitan kembali identitas-identitas lokal, identitas kelompok, hingga identitas kesukuan.
“Singkat kata, Indonesia yang majemuk di bawah tekanan globalisasi melahirkan gejala pluralisasi eksternal dan internal dalam wujud interkultural dan multikultural,” ujar Mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu.
Bagaimana Langkah ke Depan?
Yudi Latif menjelaskan, salah satu cara menghadapi dampak globalisasi itu adalah memperkuat daya
survive. Bangsa Indonesia sebagai satu masyarakat majemuk sangat tergantung dan ditentukan ambang sehat schismogenesis.
Baca Juga: Santri Harus Paham Keislaman, Kebangsaan, dan Keindonesiaan
“Schismo artinya perbedaan, genesis penciptaan. Jadi, ada kecenderungan pada diri manusia untuk mendefinisikan dirinya itu atas sesuatu perbedaan dengan yang lain,” katanya.
Masyarakat manusia sebenarnya memiliki banyak kesamaan, karena saling berbagi dan saling meminjam elemen-elemen budaya. Tetapi, manusia itu mendefinisikan dirinya atas dasar perbedaan dengan manusia lain.
Bahkan, nasional karakter merupakan hasil dari produk schismogenesis. Dia mencontohkan identitas Inggris. Identitas Inggris terbentuk karena sebisa mungkin harus berbeda dengan Prancis. Identitas Prancis terbentuk karena sebisa mungkin harus berbeda dengan Jerman.
Maka, sangat wajar jika Indonesia harus merawat kemajemukan dan penyeragaman. Meski sudah mengakui satu bangsa, namun harus tetap realistis bahwa tidak mungkin ada penyeragaman.
Baca Juga: Menjernihkan Makna dan Posisi Politik Identitas
“Karena perbedaan itu sunnatullah atau inheren di dalam DNA manusia. Bukan hanya perbedaan antaragama. Jadi, kita harus menerima fakta sosial. Fakta keragaman ini bahkan tidak bisa dibunuh dengan globalisasi. Jadi, sampai kapanpun orang-orang akan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa,” kata Yudi Latif.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS Al-Hujurat: 13).
(jqf)