Ketika batas antara harta halal dan haram menjadi kabur, serta sistem ekonomi menjerat setiap sendi kehidupan, sebuah nubuatan tentang keruntuhan etika finansial sedang menemukan bentuknya.
Ketika norma susila luruh dan keintiman tanpa ikatan menjadi pemandangan biasa di ruang publik, peradaban sedang menyongsong peringatan keras tentang hancurnya tatanan moral manusia.
Penyalahgunaan jabatan dan matinya meritokrasi menjadi lonceng kematian zaman. Awadh bin Ali menguraikan bahwa penyerahan urusan pada yang bukan ahlinya adalah sinyal nyata dekatnya hari kiamat.
Ketika para penjaga wahyu berpulang dan panggung publik dikuasai oleh mereka yang bicara tanpa dasar, dunia sejatinya sedang meniti jalan menuju titik nadir peradaban.
Munculnya barisan penjaga otoritas yang menghalalkan kekerasan menjadi sinyalemen eskatologis tentang runtuhnya nilai kemanusiaan dan hadirnya kemurkaan langit dalam kehidupan publik.
Nubuat Nabi tentang perang melawan bangsa AjamKhuz dan Karmanyang berwajah lebar terbukti dalam sejarah. Pergolakan di timur ini menjadi saksi akurat atas jam eskatologis menuju hari kiamat.
Nubuat Nabi tentang peperangan dengan bangsa Turki berwajah lebar terbukti dalam sejarah invasi Mongol dan Tatar. Peristiwa ini menjadi tanda kecil kiamat sekaligus titik balik peradaban Islam.
Fitnah akhir zaman diibaratkan sebagai potongan malam yang gelap gulita, di mana iman bisa hilang dalam hitungan jam. Nabi memerintahkan untuk menjauhi kegaduhan dan mencari perlindungan kepada Allah.
Kiamat tidak akan datang sebelum munculnya sekitar tiga puluh nabi palsu. Dari Musailamah hingga Mirza Ghulam Ahmad, para pendusta ini menjadi ujian iman dan isyarat dekatnya akhir sejarah dunia.
Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan stabilitas keamanan mutlak sebagai tanda kiamat. Perjalanan aman antara Irak dan Mekkah menjadi tolok ukur sampainya dunia pada fase akhir peradaban.
Diutusnya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah alarm pertama kiamat. Isyarat dua jarinya menegaskan bahwa dunia telah memasuki babak final dan tidak ada nabi lagi yang menghalangi kehancuran semesta.
Al-Wabil membedah kebatilan teori pembatasan umur dunia 7000 tahun. Di tengah klaim as-Suyuthi, realitas sejarah dan kritik Ibnul Qayyim membuktikan bahwa waktu kiamat mutlak menjadi rahasia Allah.
Al-Wabil membedah rahasia kiamat: bahkan nabi Ulul Azmi pun tidak tahu kapan jam terakhir tiba. Spekulasi waktu kiamat disebut sebagai kebodohan yang menentang otoritas mutlak Allah.