Langit7.id dalam rangka Hari Santri Nasional, menganggap kemandirian pesantren serta digitalisasi perlu didorong lebih kuat. Maka akan digelar Webinar Mimbar Langit7 pada Rabu, 27 Oktober 2021 ini pukul 09.00-11.00 WIB dengan tema Pesantren Goes Digital Sebuah Keharusan
Apa yang harus dilakukan pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0?. Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (Inaifas) Kencong Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, menilai ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pesantren.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, membeberkan fakta menarik terkait peran besar pondok pesantren terhadap masyarakat dan negara.
Gus Yahya menyebut ada empat dukungan yang perlu diberikan kepada pesantren agar kegiatan belajar mengajar di pesantren bisa diterapkan seperti dulu meski di tengah pandemi.
Ki Hajar Dewantara menyebut hakikat pesantren adalah terjadinya proses interaksi intensif antara kiai dan santri, sehingga terjadi proses pengajaran dan pendidikan.
Ada tiga fokus bantuan yang diberikan kepada Ponpes sesuai Perda Pesantren. Hak menerima anggaran, hak mendapatkan pembinaan, serta hak menerima pemberdayaan dari pihak pemerintah.
Menurut Ketua DDII Dr Adian Husaini, pesantren bukan hanya sekadar lembaga pendidikan yang bersifat biasa-biasa saja. Pesantren dilahirkan dalam rangka perjuangan bangsa Indonesia.
Sebutan santri selama ini digunakan untuk menyebut orang-orang yang sedang atau pernah memperdalam ilmu agama di pondok pesantren. Berikut asal usul dan makna dari sebutan santri.
Pesantren memiliki tiga fungsi, sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan. Fungsi pemberdayaan ekonomi masyarakat ditandai dengan usaha yang dikembangkan pesantren.
Masyarakat kadang salah memaknai ujian tes masuk ke sebuah pesantren. Mereka menganggap pesantren mesti menerima semua calon santri dan modal masuk pesantren hanya harus memiliki kemauan saja. Berikut alasan pesantren menyeleksi calon santrinya.
Darus Sunnah awalnya hanya menerima santri yang telah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebab belajar ilmu hadits membutuhkan kesanggupan memahami bahasa Arab dan juga kepandaian di bidang ilmu-ilmu agama lain.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Muhammad Ali Ramdhani menambahkan, Santri Sehari Menjadi Menteri merupakan salah satu dari kegiatan Sayembara Santri Siaga Jiwa Raga.
Peserta kegiatan merupakan santri/mahasantri, alumnus hingga pegiat Pesantren yang berhasil lolos seleksi Call for Paper untuk memperebutkan 117 tiket dari total 673 naskah yang masuk sebagai Panelis.