KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengungkapkan tentang keterbatasan manusia yang menjadi kelebihan. Hal itu disampaikan Gus Baha dalam peringatan Isra' Mi'raj 1446 H
Gus Baha memaparkan argumentasi mengapa Siti Aisyah mengingkari bahwa Nabi Muhammad bertemu Allah Taala ketika Mikraj. Beliau berbeda dengan ulama ahlusunnah.
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan, bulan Rajab adalah bulan dibukanya pintu rahmat oleh Allah swt.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengingatkan seluruh masyarakat untuk memperhatikan tata krama sosial, terlepas apapun jabatan dalam strata sosial.
Gus Baha, ulama kharismatik asal Jepara, dengan santai merespons isu viral tentang Gus palsu dalam acara Ngaji Bareng UII. Melalui guyonan cerdas dan dalil yang tepat, beliau menegaskan keasliannya sebagai Gus sejati, sambil membuktikan kapasitas keilmuannya dalam bidang tafsir Al-Quran.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha berpendapat, menjadi miskin justru membuka peluang lebih besar untuk menjadi dermawan. Hal ini disampaikan Gus Baha dalam sebuah pengajian
Gus Baha mengajarkan bahwa kunci kebahagiaan terletak pada kemampuan mensyukuri dan menikmati apa yang dimiliki, bukan pada kuantitas harta. Pesan ini menjadi panduan penting dalam menjalani kehidupan yang bermakna di tengah arus modernisasi.
Gus Baha mengajak umat Islam menemukan makna ibadah sejati melalui cinta tulus pada Allah. Beliau menekankan pentingnya beribadah tanpa mengharapkan imbalan surga atau takut neraka. Pandangan ini membuka wawasan baru tentang hubungan dengan Allah, menginspirasi banyak orang untuk mengevaluasi niat ibadah mereka. Ceramah ini menjadi pengingat untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan keikhlasan murni.
Gus Baha menawarkan wawasan berharga tentang menyeimbangkan kewajiban duniawi dan spiritual. Beliau menekankan pentingnya memenuhi tanggung jawab pekerjaan tanpa mengabaikan ibadah, serta mendorong umat untuk mencari solusi kreatif dalam menjalankan keduanya. Pesan ini sangat relevan bagi Muslim modern yang menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan tuntutan karir dan kewajiban agama.
Gus Baha membuka mata kita tentang tahlilan. Ternyata, tradisi yang sering kita anggap 'lokal' ini punya akar kuat dalam Islam. Bahkan ulama besar seperti Ibnu Taimiyah mendukungnya. Ini mengajarkan kita untuk tidak cepat menghakimi tradisi. Yang tampak 'lokal' bisa jadi punya dasar global. Mari kita lebih bijak memahami praktik keagamaan kita.
Gus Baha mengajak umat Islam melihat lebih dalam makna salam dalam sholat berjamaah. Beliau menegaskan bahwa salam pertama sudah cukup mengakhiri sholat, namun tetap menghargai praktik menunggu salam kedua. Ceramah ini bukan sekadar membahas teknis ibadah, tapi juga mengajak jamaah merenungkan esensi kebersamaan dan toleransi dalam beragama.
Kisah yang dibagikan oleh Gus Baha tentang sahabat Nabi yang terlihat sombong namun diridhai Allah mengajarkan kita untuk tidak menilai seseorang hanya dari penampilannya. Niat tulus di balik tindakan yang tampak negatif bisa menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan beragama. Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami konteks dan niat seseorang sebelum membuat penilaian.