Ustadz Dzulqarnain menjelaskan, hal utama yang harus ditekankan bagi anak-anak adalah cara membaca Alquran dengan baik dan benar, terutama bagi usia 4-12 tahun.
Karakteristik bahasa Arab dalam Al-Qur'an berbeda dari kitab lain, karena hukum membaca yang jelas. Kesalahan membaca bisa mengubah makna suatu kalimat.
Al-Qur'an sebagai Asy-Syifa memerlukan niat. Seseorang perlu meniatkan saat membaca atau mendengarkan Al-Qur'an untuk mendapatkan syifa, dan memperbaiki diri.
Penulisan tafsir Al-Qur'an terbanyak muncul dalam rentan masa abad ke-20. Pada awal abad ini bermunculan literatur tafsir yang ditulis ulama Tanah Air.
Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Waryono Abdul Ghofur, menilai perlu terobosan untuk mengoptimalkan peran Lembaga Pendidikan Al-Qur'an (LPQ).
Quraish Shihab dalam Kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Karim menjelaskan, pengulangan kata pada Al-Qur'an memiliki makna yang sedikit atau banyak berbeda dengan kata yang diulang.
Ada banyak ayat dalam Qur'an yang mendorong pengamatan, penelitian, dan penelaahan terhadap segala yang tampak di alam semesta, seperti Surah Al-Ghasyiyah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, KH Yahya Zainul Ma'arif atau akrab disapa Buya Yahya, menjelaskan beberapa adab terhadap Al-Quran yang kerap terlupakan.
Ibu dan bapak adalah orang yang harus mendapat penghormatan secara tulus dari anaknya. Apalagi kalau melihat jasa dan pengorbanannya, tentu saja tiada orang yang paling berjasa selain daripada orang tua.
Jika dibandingkan dengan suara lain seperti musik, murottal atau bacaan Al-Qur'an memiliki tingkat relaksasi terbaik dan lebih bermanfaat bagi perkembangan otak.