Salah satu dampak Islamophobia yang memilukan belum lama ini adalah penembakan jamaah shalat di Christchurch, Selandia Baru. Tragedi terjadi di masjid Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre pada 15 Maret 2019 dan menewaskan 50 orang tewas dan puluhan lainnya terluka.
Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof Dr Daniel Mohammad Rasyid, menilai salah satu cara melemahkan umat Islam adalah menarasikan secara publik bahwa Islam itu kreasi budaya Arab.
Dua jamaah menderita luka ringan akibat pecahan kaca. Sisa-sisa dokumen dan kertas yang terbakar ditemukan di luar masjid yang diyakini telah ditinggalkan ketika salah satu penyerang mencoba menyalakan api di tempat sampah mereka.
Kejadian penyerangan nine-eleven atau 9/11 WTC di New York misalnya, seharusnya dengan serangan tersebut Islam akan dijauhi atau hilang di Amerika Serikat. Namun sebaliknya, setelah kejadian tersebut orang-orang tertarik untuk mempelajari Islam.
Gus Yahya, panggilan akrabnya, menerangkan negara-negara sejak dulu berkonflik senjata dengan berbagai kepentingan. Salah satunya membawa identitas agama masing-masing yang membuat benci atau memusuhi agama lawannya.
Ustaz Tiar sepakat bahwa radikaslisme dan ekstrimisme perlu dihilangkan, tidak hanya pada Islam, tapi juga pada semua agama. Selain itu, lanjut Tiar, sikap permusuhan dan kebencian terhadap Islam juga perlu menjadi perhatian bersama.
Andu menuturkan, panitia menyayangkan pembatalan tersebut karena semua perijinan sudah diurus. Namun pihaknya tetap menerima, menghormati, menaati, dan melaksanakan keputusan otoritas terkait.
Menurut dia, perang melawan Islamophobia dapat dilakukan dengan pendekatan hukum melalui penguatan peraturan. Komisi Hukum MUI bisa melakukan pendekatan dengan anggota legislatif untuk melakukan somasi dan penuntutan kepada mereka yang melakukan tindakan Islamophobia.