LANGIT7.ID, Jakarta - Wacana Islamofobia menjadi perhatian dunia saat ini. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 15 Maret sebagai hari anti Islamofobia (Combat Islamophobia).
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(PBNU), KH Yahya Cholil Tsaquf berpendapat selain Islamofobia yang mengendap di kalangan kaum non muslim, juga ada istilah kafirulfobia yang mengendap di kalangan kaum muslim. Bahkan kedua istilah tersebut masuk wacana keagamaan masing-masing.
"Islamofobia dan kafirulfobia telah ada sejak lama. Hal itu merupkan warisan sejarah konflik sejarah yang panjang antara dunia Islam dan non Islam," ujar Yahya Cholil Tsaquf, dalam webinar internasional Komisi HLNKI-MUI, kemarin (30/3/2022).
Baca Juga: 3 Aplikasi Smartphone untuk Hitung Zakat, Yuk Coba DownloadGus Yahya, panggilan akrabnya, menerangkan negara-negara sejak dulu berkonflik senjata dengan berbagai kepentingan. Salah satunya membawa identitas agama masing-masing yang membuat benci atau memusuhi agama lawannya.
"Puncaknya adalah perang dunia pertama dan kedua yang kemudian melahirkan kesadaran dunia tentang pentingnya menjaga perdamaian. Pada 1945 lahirlah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," kata Gus Yahya.
Harapan dunia yang lebih baik memunculkan kesadaran membangun tata dunia baru yang lebih moderat. Bermakna tidak lagi memunculkan permusuhan melawan kelompok agama lain. Toleransi dibutuhkan muncul di antara kelompok-kelompok keagamaan.
"Kuncinya adalah hidup berdampingan di antara kelompok-kelompok yang berbeda," katanya.
Menurut dia, Indonesia sudah mengenal hidup berdampingan berbeda agama dengan konsep Bhineka Tunggal Ika. "Di belahan dunia lain, hal itu merupakan sesuatu yang baru," ujarnya.
Baca Juga: PP Persis: Umat Islam Selalu Jadi Korban Wacana Pemberantasan TerorismeGus Yahya menjelaskan, kafirphobia adalah ketakutan dan kebencian yang tumbuh dalam mentalitas masyarakat muslim terhadap umat agama lain. Mentalitas ini, menurut dia, merupakan warisan ratusan tahun sejak era Turki Utsmani.
“Selama era Turki Utsmani 700 tahun tak pernah berhenti sama sekali operasi militer melawan kerajan Kristen di barat, lalu di timur ada Dinasti Mughal yang sepanjang waktu dalam waktu cukup lama terlibat konflik yang sangat tajam dengan umat Hindu di India, khusunya bagian utara,” paparnya.
Dalam peradaban Islam, Gus Yahya memandang, wacana tentang moderasi dan toleransi merupakan sesuatu yang baru. Sejak lama umat Islam terjebak dalam persaingan antaridentitas, termasuk identitas agama.
“Kalau kita baca diskursus mengenai hukum orang kafir dan konsekuensinya, jadi ini sesuatu yang resiprokal, ada Islamophobia dan kafirphobia, apakah itu Hinduphobia, Kristenphobia, dan sebagainya,” kata Gus Yahya.
Baca Juga: Syaikh Muhammad al-Ghazali: Islam Pelopor Hak Asasi Manusia(zhd)