Buat orang-orang sektarian, ikhtilaf para sahabat ini menjadi sumber perpecahan. Buat orang yang berjiwa terbuka, ikhtilaf ini adalah aset bagi perkembangan pemikiran.
Salah satu sebab utama ikhtilaf di antara para sahabat adalah prosedur penetapan hukum untuk masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah SAW.
Lantaran posisi sahabat begitu istimewa, kata Jalaluddin Rakhmat, maka tidak mengherankan bila mazhab sahabat menjadi rujukan penting bagi perkembangan fiqh Islam sepanjang sejarah
Pemikiran Salafi yang dimaksud al-Qardhawi adalah kerangka berpikir yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari umat ini. Yakni para sahabat Nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia.
Kisah Mushab bin Umair sangat menarik Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kepemudaannya dengan kalimat: Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum.
Khalifah itu sempat dianggap gila atau setidak-tidaknya lupa ingatan. Kala itu, orang sampai menduga-duga, itu akibat dosa-dosa Umar yang bertumpuk semasa muda.
Umat Islam mengenalnya dengan nama Abu Bakar As-Shiddiq dan sedikit yang tahu nama aslinya. Muhammad Husain Haekal menyebut nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Quhafah
Seorang mufasir tidak dapat mengabaikan hadis-hadis Rasulullah dan pendapat sahabat. Penafsiran yang paling ideal adalah tafsir bi alma'tsur, yakni yang berlandaskan ayat, hadis, dan pendapat sahabat dalam menafsirkan Al-Quran.
Pada saat perang Uhud terjadi Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, lihatlah Thalhah!
Nyala sengketa politik antara Muawiyah dengan Ali bin Abi Thalib tak pernah padam. Meski begitu, Muawiyah yang akhirnya menjadi pemenang dalam sengketa itu tak bisa menahan air matanya ketika mendengar puja puji tentang kebaikan Ali bin Abi Thalib.
Umar berkata, Jika Allah memberikan saya kesempatan, saya akan berusaha membuat para janda penduduk Irak tidak memerlukan seseorang untuk membantu mereka, setelahku! Belum lagi lewat empat hari setelah ucapannya, Umar kemudian terbunuh.
Ketika dia sedang khusyu membaca Al-Qur'an, datanglah lelaki dari perempuan yang telah ditawan. Saat dia melihatnya sedang salat, tahulah dia bahwa dia adalah penjaga pasukan.
Ketika mereka telah sepakat untuk membunuhnya, Khubaib berkata kepada mereka, Berikanlah kesempatan kepadaku untuk sholat dua rakaat. Mendapati permintaan itu, mereka memberikan kesempatan kepada Khubaib untuk sholat.