Berkat pendidikannya di Hizbul Wathan menjadikan dirinya sebagai sosok yang tegak lurus membela kepentingan Tanah Air dan anti penjajahan serta cinta Muhammadiyah.
Sebelum Indonesia merdeka, masjid menjadi salah satu tempat menyusun strategi dan titik kumpulnya para pejuang. Meski demikian, hal tersebut tidak menghilangkan fungsi utama masjid sebagai tempat beribadah.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita kelahiran 16 Maret 1982 itu, merupakan salah satu publik figur yang berasal dari keturunan pahlawan. Ia adalah cucu dari Prof Mr Sunario Sastrowardoyo, yakni sosok penting dibalik Manifesto 1925 dan Kongres Pemuda II Tanah Air.
Kehadiran Syeikh KH Hasyim Asyari dan banyak tokoh pesantren dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, meninggalkan jejak konkret atas peran ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Perjuangan Cut Nyak Dhien di Jalan Allah patut dijadikan pembelajaran. Terlebih, kisah heroiknya di Tanah Rencong sampai-sampai ditakuti pihak Belanda.
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengajak masyarakat terutama ASN Kementerian Agama untuk meneladani perjuangan pahlawan sesuai konteks masa kini.
Abdoel Moeis merupakan pejuang, sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Abdul Moeis merupakan Pengurus Besar Sarekat Islam, dan anggota Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 1918.
Setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang perjuangan Arek-arek Suroboyo menghalau penjajah yang dikomandoi Bung Tomo. Putra Bung Tomo, HM Bambang Soelistomo, menceritakan awal mula Bung Tomo mengomandoi pertempuran di Surabaya melawan tentara Sekutu
Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Salahuddin bin Talibuddin dari Maluku Utara. Masayarakat mengenalnya dengan nama Haji Salahuddin.