Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Menghalalkan Kenikmatan: Seks, Agama, dan Tembok-Tembok yang Harus Rubuh

miftah yusufpati Jum'at, 25 Juli 2025 - 04:15 WIB
Menghalalkan Kenikmatan: Seks, Agama, dan Tembok-Tembok yang Harus Rubuh
Agama tidak boleh disandera oleh rasa malu dan pendidikan seksual tidak boleh mati hanya karena dianggap tabu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sebuah pembicaraan panjang pernah dianggap tabu. Di balik tirai kesopanan dan suara yang diredupkan, kata “seks” selama berabad-abad dikurung dalam kesalahpahaman. Dianggap najis, tak layak dibicarakan, apalagi diteliti. Tapi benarkah demikian?

Di dalam Islam, seks bukanlah barang haram. Ia tidak najis, bukan pula sekadar urusan biologis yang memalukan. Seks, dalam batasan yang ditetapkan agama, justru adalah jalan pahala. Ia adalah bentuk ibadah yang melibatkan cinta, tanggung jawab, dan kenikmatan yang halal. Tapi, kenapa pemahaman ini seolah tenggelam?

Buku Tahrirul-Ma’rah fi ‘Ashrir-Risalah atau Kebebasan Wanita dalam Masa Risalah karya Abdul Halim Abu Syuqqah, membuka kembali ruang diskusi yang selama ini dikunci rapat.

Seks, menurut Abu Syuqqah, telah disalahpahami akibat warisan panjang pemikiran asketis — baik dari tradisi sufi yang menyimpang maupun dari paham kerahiban (rahbaniyyah) dalam agama Kristen dan kepercayaan Timur Kuno.

“Padahal,” tulis Abu Syuqqah, “Rasulullah SAW dan para sahabatnya berjalan menuju arah pendidikan seks yang benar. Mereka tidak menjadikan seks sebagai sesuatu yang kotor atau tabu. Justru mereka melahirkan masyarakat dengan mental yang sehat.”

Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam Harus Tumbuhkan Cinta Anak pada Allah

Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membenci seks. Beliau tidak mendewakan nafsu, tapi juga tidak mengebiri fitrah manusia. Dalam rumah tangganya, seks adalah bentuk kasih sayang. Dalam pidatonya, seks adalah jalan menuju kesucian. Dalam contoh hidupnya, seks tidak dipisahkan dari takwa.

Namun, narasi itu perlahan tergerus. Islam, dalam banyak budaya, kehilangan akarnya yang rasional dan penuh kasih. Seks mulai dibisiki rasa malu dan diasingkan dari masjid-masjid. Pembicaraan tentang hubungan suami istri, pendidikan seksual, bahkan pernikahan dini, menjadi ranjau yang harus dilompati para ustaz, guru, dan orang tua. Kita akhirnya mewarisi rasa takut — bukan pada Tuhan, tapi pada tema yang justru diciptakan-Nya.

Pintu yang Ditutup Sejarah

Tradisi sufi ekstrem memperkenalkan paham “zuhud” yang menolak dunia. Seks ikut masuk dalam daftar hitam. Padahal, kezuhudan Rasulullah tidak menjadikannya seorang rahib. Beliau menikahi beberapa istri, berlaku adil, bergaul mesra, dan tetap menjadi manusia yang utuh: beriman sekaligus berhasrat.

Masalahnya, banyak tafsir keagamaan kemudian diwarisi bukan dari sunnah hidup Rasulullah, melainkan dari bias sejarah. Agama dibingkai oleh budaya patriarkis yang takut pada perempuan, pada seksualitas, dan pada perubahan. Seks menjadi senjata untuk membungkam, bukan ruang untuk tumbuh.

“Perlu kita robohkan tembok besar yang selama ini menghambat pembicaraan tentang seks,” tegas Abu Syuqqah dalam bukunya. Dan tembok itu, menurutnya, bukan hanya dibangun oleh masyarakat awam, tapi juga oleh kalangan cendekia dan lembaga keagamaan yang memelihara tabu alih-alih ilmu.

Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam, Tak Hanya Sebatas Hubungan Seksual

Dalam Islam, menikah adalah pintu bagi cinta dan seks yang sah. Tapi hari ini, pernikahan menjadi semacam ritual mahal yang rumit. Alih-alih membuka jalan menuju kebaikan, ia disekat birokrasi, budaya gengsi, dan tafsir agama yang menjelma batas-batas artifisial.

Padahal, Islam sejak awal menawarkan model yang ringan, adil, dan solutif. Menikah muda? Tidak dilarang. Bahkan dipermudah. Tapi dengan syarat: siap secara psikologis, spiritual, dan sosial. Islam tidak merayakan kedewasaan semata dari angka usia, tapi dari kesiapan seseorang menjalani tanggung jawab.

Semakin dipersulit, semakin besar godaan bagi perbuatan yang tidak terpuji. "Na'udzubillah min dzalik!" tulis Abu Syuqqah, memperingatkan.

Membangun Ulang dari Puing-Puing Pemahaman

Bagi Abu Syuqqah, jalan keluar dari krisis ini bukan sekadar retorika. Ia menyerukan lima langkah konkret: kajian mendalam atas Al-Qur'an dan Sunnah; peninjauan atas warisan pemikiran ulama; pembacaan kritis terhadap karya pemikir muslim modern; riset lapangan tentang kenyataan sosial hari ini; dan seleksi cermat atas hasil penelitian Barat tentang seksualitas dan peran perempuan.

Lima jalan ini seperti peta. Bukan untuk menuju kebebasan liar ala Barat, juga bukan untuk kembali ke gua-gua puritanisme. Tapi menuju masyarakat yang mampu menimbang realitas dan wahyu — dan merumuskan ulang masa depan dengan akal yang jernih dan hati yang bersih.

Baca juga: Edukasi Seks dalam Islam: Ajarkan Fitrah, Lindungi Anak dari Pornografi dan Pergaulan Bebas

Kita tidak sedang menyerukan “seks bebas”. Tapi justru ingin membebaskan seks dari kungkungan ketidaktahuan. Seks bukan sekadar soal tubuh, tapi juga tentang etika, cinta, dan ketakwaan. Ia bukan milik Barat, bukan juga monopoli agama. Ia adalah fitrah — dan seperti fitrah lainnya, ia perlu bimbingan, bukan kutukan.

Rasulullah SAW telah memberi contoh bagaimana menjadi manusia paripurna: seorang pemimpin, suami, dan pecinta. Maka tugas kita hari ini adalah membetulkan persepsi kita terhadap seks, sebagaimana kita membetulkan arah kiblat shalat.

Tidak semua yang lama itu benar. Dan tidak semua yang baru itu sesat. Maka agama tidak boleh disandera oleh rasa malu — dan pendidikan seksual tidak boleh mati hanya karena dianggap tabu. Sebab, bila tembok itu terus berdiri, yang tertinggal hanya ruang gelap. Dan di ruang itulah kebodohan tumbuh.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)