Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Menimbang Ulang Skala Prioritas dalam Islam: Isu-Isu yang Disorot Al-Qur'an

miftah yusufpati Ahad, 03 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Menimbang Ulang Skala Prioritas dalam Islam: Isu-Isu yang Disorot Al-Qur'an
Barang siapa ingin hidup dalam keterangan, haruslah kembali menjadikan Al-Quran sebagai timbangan. Sebab dalam dialah agama menemukan akarnya, umat menemukan arahnya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejak beberapa tahun terakhir, gairah umat Islam dalam merayakan ritual-ritual keagamaan meningkat signifikan. Lomba azan anak, perayaan maulid akbar, tabligh akbar, hingga tren umrah “backpacker” membentuk lanskap baru dalam ruang publik Islam. Namun, di balik gegap gempita ekspresi keagamaan ini, sebuah pertanyaan mendasar mencuat: apakah semua yang dirayakan itu benar-benar penting menurut Al-Qur’an?

Syaikh Yusuf al-Qardhawi, ulama terkemuka asal Mesir, mengajukan gagasan tajam dalam bukunya Fiqh Prioritas—sebuah seruan untuk meninjau ulang apa yang seharusnya menjadi perhatian utama umat Islam. Menurut Qardhawi, Al-Qur’an sendiri telah menetapkan ukuran tentang hal-hal yang harus didahulukan dalam berpikir, bersikap, dan beribadah. Ukuran itu bukan berdasar tradisi turun-temurun, apalagi kesemarakan sesaat, melainkan pada intensitas perhatian Al-Qur’an terhadap suatu isu: seberapa sering ia diulang, diperintah, atau diperingatkan?

Jika mengacu pada ukuran itu, maka jelaslah bahwa pokok-pokok keimanan, ibadah, dan akhlak—bukan perayaan-perayaan seremonial—yang menjadi prioritas utama. Keimanan kepada Allah, nabi-nabi-Nya, hari kiamat, surga dan neraka; pelaksanaan salat, zakat, puasa, dan haji; serta akhlak mulia seperti jujur, rendah hati, dan peduli terhadap kaum lemah adalah tema-tema yang paling sering ditegaskan oleh Al-Qur’an. "Itulah yang harus diprioritaskan oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita," tulis Qardhawi.

Baca juga: Jalan Bertahap Menuju Masyarakat Islam: Menelusuri Fikih Transformasi Sosial ala Qardhawi

Sebaliknya, isu-isu yang justru sering dibesar-besarkan dalam kehidupan keagamaan kontemporer, seperti Isra’ Mi’raj atau Maulid Nabi, hanya mendapat porsi kecil bahkan tidak disebut sama sekali oleh Al-Qur’an. Isra’ hanya dibahas dalam satu ayat dalam surah Al-Isra’, sedangkan maulid yang kini dirayakan bak festival tahunan di banyak negara Islam, tidak muncul dalam bentuk perintah, anjuran, atau bahkan isyarat sekalipun. Artinya, tidak semua yang populer itu prioritas, dan tidak semua yang hening itu tidak penting.

Kritik Qardhawi bisa dianggap sebagai otokritik ke dalam tubuh umat Islam sendiri. Ia seolah hendak berkata bahwa umat sering kali lebih tergerak oleh kebisingan simbolik daripada substansi iman. Padahal, dalam pandangan Al-Qur’an, agama adalah petunjuk praktis menuju keselamatan, bukan hiasan identitas. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus,” firman Allah dalam surah Al-Isra’: 9.

Bukan berarti semua bentuk perayaan harus dilarang. Qardhawi tidak mengharamkan maulid atau peringatan Isra’. Tapi ia menyarankan agar kita tidak menempatkannya sebagai pusat dari kehidupan beragama, karena Al-Qur’an sendiri tidak melakukannya. Jika seorang Khalifah seperti Abu Bakar pernah berkata, “Kalau aku kehilangan kendali unta, aku akan mencarinya dalam Kitabullah,” maka semestinya umat pun menakar ulang: mana hal yang benar-benar “ditekankan” oleh wahyu, dan mana yang sekadar warisan budaya atau dorongan emosi kolektif?

Dalam konteks ini, pemahaman fiqh prioritas menjadi amat penting. Ia membantu membedakan mana yang pokok dan mana yang cabang, mana yang wajib dan mana yang sekadar mubah. Ia memandu agar energi umat tidak habis untuk membela hal-hal yang secara teks wahyu justru tak pernah diminta dibela.

Baca juga: Membaca Ulang Aturan dalam Keadaan Terpaksa: Fikih Tak Sekadar Larangan

Ketika khotbah-khotbah lebih banyak bicara soal kedudukan kaum kafir daripada mendidik kesabaran, atau ketika masjid-masjid megah tumbuh sementara infak untuk anak yatim minim, maka kita perlu bertanya: masihkah kita berjalan di jalan yang paling lurus itu?

Qardhawi menutup pesannya dengan mengingatkan bahwa Al-Qur’an adalah “kitab yang menjelaskan segala sesuatu” (an-Nahl: 89). Maka barang siapa ingin hidup dalam keterangan, haruslah kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai timbangan. Sebab dalam dialah agama menemukan akarnya, umat menemukan arahnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)