Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Bangsa dalam Al-Quran: Antara Qaum, Ummah, dan Syab

miftah yusufpati Jum'at, 29 Agustus 2025 - 04:15 WIB
Bangsa dalam Al-Quran: Antara Qaum, Ummah, dan Syab
Sejarah mencatat bahwa ide kebangsaan mulai dikenal dunia Islam setelah ekspedisi Napoleon ke Mesir pada 1798. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada era ketika identitas nasional menjadi perekat politik, sebagian kalangan mencoba mencari legitimasi ideologis dalam teks suci. Nasionalisme yang lahir dari rahim Eropa modern, konon menemukan cerminnya dalam kata-kata Al-Qur’an. Klaim ini terutama merujuk pada banyaknya kata qaum* dalam mushaf yakni sebanyak 322 kali. Namun, apakah fakta linguistik ini cukup untuk menegaskan bahwa Islam mendukung paham kebangsaan?

Secara terminologis, qaum berarti “kelompok manusia yang memiliki keterikatan sosial atau kekerabatan”. Istilah ini digunakan Al-Qur’an dalam konteks yang beragam: dari “qaum Nabi Nuh” (QS 7:59) hingga “qaum yang zalim” (QS 7:103). Dalam analisis Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab menegaskan bahwa kata ini lebih bersifat deskriptif ketimbang ideologis. “Ia menunjuk pada kelompok manusia tanpa mengaitkan dengan konsep negara-bangsa,” tulisnya (Shihab, 2002: 157).

Adapun ummah, yang muncul 64 kali, memiliki nuansa yang lebih religius. Al-Qur’an menggunakan istilah ini untuk menandai komunitas yang disatukan oleh iman atau tujuan moral, bukan oleh batas teritorial. Dalam QS Al-Baqarah:143, ummat wasath dipahami sebagai “komunitas moderat” yang mengemban misi keadilan.

Baca juga: Kapan Islam Mengenal Nasionalisme? Dari Napoleon ke Al-Qur’an

Sedangkan kata sya’b (jamak: syu‘ub) hanya muncul sekali, yakni dalam QS Al-Hujurat:13: “Wahai manusia! Sungguh Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa (syu‘ub) dan bersuku-suku (qabā’il) agar kamu saling mengenal.”

Ayat ini kerap dijadikan pijakan untuk menjustifikasi nasionalisme. Padahal, sebagaimana diuraikan oleh Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity (1982), pesan ayat tersebut bukan glorifikasi identitas etnis atau politik, melainkan pengakuan atas keragaman ciptaan Tuhan. “Nilai moral yang diangkat bukan persaingan identitas, melainkan supremasi takwa sebagai kriteria kemuliaan,” tulis Rahman.

Apakah Al-Qur’an Mendukung Nasionalisme?

Sebagian penafsir modern, seperti Rasyid Ridha, mencoba mengaitkan ayat-ayat tentang qaum dengan semangat kebangsaan. Dalam Tafsir al-Manar, ia menilai pengakuan Al-Qur’an terhadap keragaman dapat menjadi basis kebangsaan yang sehat, selama tidak melahirkan fanatisme yang memecah belah umat. Namun, klaim ini tetap bersifat interpretatif, bukan eksplisit normatif.

Ibn Khaldun, jauh sebelum wacana nasionalisme muncul, menulis dalam Muqaddimah tentang ‘ashabiyyah (solidaritas kelompok) sebagai energi politik. Tetapi ia menggarisbawahi, ikatan ini seharusnya tunduk pada syariat, bukan menjadi ideologi otonom. “Jika ‘ashabiyyah menjadi tujuan, ia berubah menjadi fitnah,” tulisnya (Ibn Khaldun, 1377 H: 110).

Baca juga: Sosok KH Syaikhona Kholil Bangkalan: Guru Besar Ulama dan Pelopor Nasionalisme Santri

Jadi kesimpulannya: Persatuan dalam takwa, bukan negara-bangsa Tunggal. Al-Qur’an memang mengakui keragaman etnis, bahasa, dan komunitas. Istilah qaum, ummah, dan sya’b mengandung pengakuan terhadap struktur sosial yang plural. Namun, kitab suci ini tidak memerintahkan pembentukan negara-bangsa modern. Alih-alih, ia menekankan nilai persatuan spiritual: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat:13).

Dengan demikian, nasionalisme bisa saja bersanding dengan Islam, sepanjang ia ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan ideologis yang mengungguli takwa.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)