LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid adalah tempat ibadah umat Islam, tempat sujud dalam rangka menyembah Allah. Bangunan biasanya memiliki ciri khas tersendiri seperti kubah berbentuk parabola dan adanya menara untuk menyiarkan adzan.
Mubaligh Persatuan Islam (Persis) Ustaz Anshoruddin Ramdhani menjelaskan, pembangunan masjid harus mengikuti ketentuan ajaran Islam, yakni tidak boleh menyerupai tempat ibadah agama lain. Penyerupaan terhadap ciri khas nonmuslim disebut tasyabuh.
“(Misalnya) bangunannya mirip sekali sinagog, kelenteng, mirip gereja jelas itu termasuk tasyabuh. Tapi kalau segi warna misalnya merah seperti kelenteng, boleh,” katanya dalam ceramah di kanal Youtube Dakwah Persatuan Islam dikutip Kamis (20/1/2022).
Baca Juga: Dubes UAE Melepas 50 Jamaah Umrah Hilal AhmarNamun, Ustadz Anshoruddin menegaskan, tidak semua yang mirip dengan gaya nonmuslim disebut tasyabuh. Menurut dia, yang dimakusd tasyabuh dalam membangun masjid adalah arsitektur dan bangunannya sangat mirip dengan tempat ibadah agama lain.
“Sekarang ada orang yang terlalu hiper mengkritik segala sesuatu tasyabuh. Mirip belum tentu menyerupai, jadi jangan gampang begitu saja menganggap tasyabuh,” imbuhnya.
Baca Juga: Dari Cicit Nabi sampai Guru Imam Syafii: Ulama Perempuan dalam Sejarah Islam (Bag. II)Ia menguraikan, pembeda taysabuh atau bukan terletak pada ciri khas yang telah menjadi identitas. Adapun bila sudah terjadi akulturasi, ciri umum sehingga tidak dapat dibedakan bukanlah tasyabuh.
“Cuma untuk bangunan masjid kita hati-hati saja jangan sampai arsitekturnya mirip sekali bangunan ibadah nonmuslim,” katanya.
Baca Juga: Penambahan LPH Dorong Pelaku Usaha Dapatkan Sertifikasi Halal(zhd)