LANGIT7.ID - , Jakarta - Mengacu dari tingkat penyebaran varian Omicron di Tanah Air saat ini, Indonesia disebut telah memasuki gelombang ketiga Covid-19.
Omicron yang memiliki tingkat penularan lebih cepat, membuat kasus positif Covid-19 semakin meningkat pula. Data Kementerian Kesehatan melaporkan, kasus harian Covid-19 di Indonesia tembus hingga lebih dari 37 ribu orang.
dr. Hamzah Shatri, dari Divisi Psikosomatik dan Paliatif FKUI-RSCM menyebutkan, pandemi Covid-19 varian Omicron menyebabkan peningkatan gangguan psikosomatik. Gangguan ini dapat terjadi pada mereka yang terinfeksi virus maupun tidak.
Baca juga: Pemerintah Percepat Vaksinasi hingga Telemedisin Hadapi Omicron"Rasa khawatir akan tertular, khawatir mengenai stigma, pengalaman pandemi, isolasi sosial merupakan beberapa faktor yang dapat menimbulkan gangguan psikosomatik saat pandemi," jelas dia seperti dilansir ui.ac.id.
Menurutnya, fenomena tersebut perlu mendapatkan perhatian khusus untuk segera diidentifikasi dan mendapatkan penanganan. Diperlukan edukasi kepada masyarakat untuk mengatur gejala panik, sehingga dapat terkendali dan meminimalisasi panik berlebihan.
"Panik dan rasa cemas berpotensi menimbulkan gangguan psikosomatik. Gangguan psikosomatik merupakan keluhan fisik (somatik) yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi (psikis)," jelasnya.
Hamzah menjelaskan, gangguan psikis meliputi cemas, depresi, gangguan tidur, dan lelah akut maupun kronik. Gangguan ini akan menyebabkan penderitanya merasakan keluhan seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar-debar.
Lebih lanjut, gangguan ini juga dapat memicu kambuhnya penyakit somatik seperti maag, hipertensi, serangan jantung, dan stroke. Bahkan, jika stres terjadi terus menerus dapat berujung pada kematian.
“Masalah psikis bukanlah masalah kecil. Diperlukan dukungan psikologis dan sosial baik untuk masyarakat, keluarga, maupun individu,” ujar Hamzah.
Baca juga: Hadapi Omicron, Gus Halim : Tetap Tenang, Terus Terapkan Protokol Kesehatan dan VaksinasiDijelaskannya, salah satu upaya menangani rasa cemas adalah dengan mengenal sumber kecemasan. Saat ini, faktor pendorong kecemasan adalah penyebaran varian virus omicron yang sangat cepat, bahkan melebihi varian delta.
Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menekan rasa cemas dan panik, yakni dengan membatasi asupan berita, khususnya terkait Covid-19. Sebab, hal itu diyakini hanya akan memasok rasa cemas berlebihan.
Selain itu, masyarakat juga bisa fokus pada kegiatan yang lebih produktif, sehingga akan terdistraksi dari pikiran negatif. Selanjutnya, tidak bereaksi berlebihan terhadap gejala fisik yang dialami.
(est)