LANGIT7.ID, Jakarta - Invasi Rusia terhadap Ukraina akan membawa bencana bagi perekonomian global. Indonesia sebagai negara emerging market juga tidak bisa terhindar dari ancaman risiko ekonomi.
Peneliti INDEF, Eisha M Rachbini menguraikan sejumlah ancaman perlambatan ekonomi akibat perang Rusia dengan Ukraina. Pertama tentu saja pemulihan ekonomi global setelah remuk terhempas pandemi Covid-19 menjadi lebih rendah.
“Jika konflik ini berkepanjangan, akan ada dampaknya terhadap global supply chain,” kata Eisha dalam diskusi Indef, "Dampak Ekonomi Perang Rusia-Ukraina", baru-baru ini.
Baca Juga: G7 Bakal Turun Tangan Sikapi Serangan Rusia ke UkrainaIa menjelaskan, saat ini rantai pasok (supply chain) sudah mengalami hambatan logistik akibat Covid-19 yang memicu kenaikan harga komoditas. Pasokan komoditas akan terganggu, logistik pengiriman terhambat, infrastruktur utama, seperti pelabuhan di area Laut Hitam.
Sanksi terhadap Rusia jika negara maju memberikan banned atas komoditas Rusia, dampaknya akan memperburuk harga komoditas. Sebab, global supply rendah, dengan mengecualikan sumber komoditas alam asal Rusia.
Indonesia sebagai negara emerging market juga akan mengalami dampak negatif. Perang Rusia dengan Ukraina yang memengaruhi perekonomian global juga akan menggoyang pasar keuangan di Indonesia.
Baca Juga: Sarat Kepentingan Politik, Umat Islam Jangan Terjebak di Konflik Rusia-UkrainaMisalnya terhadap nilai tukar indeks harga saham global (IHSG), inflasi tinggi akibat commodity shock. Kondisi ini akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga (Inflasi AS 7,5 persen Januari 2022, tertinggi dalam 40 tahun), termasuk Safe Havens Currencies seperti USD dan JPY.
“Depresiasi nilai tukar (Rp), potensi capital outflow, balance of payment (BoP). Di pasar keuangan, juga dapat terdampak pada penyaluran kredit, dan kinerja korporasi,” ujar Eisha.
Baca Juga: Islam Pernah Dipertimbangkan Jadi Agama Resmi Rusia(zhd)