Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tafsir At-Takasur: Larangan Sifat Suka Pamer dan Berbangga Diri

Muhajirin Sabtu, 12 Maret 2022 - 17:00 WIB
Tafsir At-Takasur: Larangan Sifat Suka Pamer dan Berbangga Diri
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Surah At-Takasur (التَّكَاثُرُۙ) merupakan surah ke-102 dalam Al-Qur'an. Surah ini terdiri dari delapan ayat. Mayoritas ulama berpendapat, surah ini tergolong Makkiyah.

Ahli tafsir Al-Qur'an, Dr Amir Faishol Fath, menjelaskan, ayat pertama dalam surah tersebut menegaskan larangan berbangga-bangga diri. Berbangga-bangga diri tidak hanya pada harta saja, tapi juga dalam perkara ibadah, ilmu, hingga kekuasaan.

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu." (QS At-Takatsur: 1).

At-Takatsur berasal dari kata katsir artinya berbangga-bangga memperbanyak. Ini tidak terfokus pada harta saja, sebagaimana fenomena akhir-akhir ini di dinding maya masyarakat Indonesia.

Baca juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 183: Kewajiban Berpuasa untuk Orang Beriman

"Apapun berbangga-bangga memperbanyak itu pasti merusak, baik ilmu, ibadah, dan harta. Kalau sudah berbangga-bangga memperbanyak itu merusak," kata Amir melalui Fath TV, Sabtu (12/3/2022).

Ada orang yang berbangga-bangga memperbanyak ilmu sampai menganggap dirinya paling berilmu di muka bumi. Ini pernah terjadi kepada Nabi Musa AS, namun langsung ditegur oleh Allah Ta'ala.

Allah memerintahkan Musa untuk menemui Khidir, salah satu tokoh masyhur dalam Surah Al-Kahfi. Kisah Musa dan Khidir menjadi contoh konkret, di atas orang berilmu masih ada orang yang paling mengetahui.

"Ada orang yang berbangga-bangga dengan ilmu lalu mudah menghukumi salah orang lain. Seharusnya kita tahu, di atas orang alim masih ada orang alim. Kita harus tawadu," ucap Amir.

Sama halnya berbangga-bangga dengan jabatan. Umat Islam dilarang merasa paling berkuasa ketika mendapatkan jabatan. Sikap seperti mudah menggunakan tangan besi dalam menanggapi kritikan atau orang berbeda pendapat.

Demikian pula orang yang memperbanyak harta hanya untuk memamerkan ke khalayak ramai. Sifat seperti ini sangat dibenci oleh Allah Ta'ala.

Bcaa juga: Tafsir Fushilat Ayat 8: Jaminan Pahala Allah Tak Terputus Bagi Orang Beriman

"Ini yang disebut At-Takatsur, berbangga-bangga memburu kekayaan, ingin dibilang konglomrat nomor satu. Ini juga menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam satu dosa," kata Amir.

Amir melanjutkan, ingin dipandang paling hebat atau paling kaya itu mencelakakan diri sendiri. Ulama tafsir menjelaskan, berbangga-bangga diri ada berupa harta, sehingga kemudian lupa shalat, lupa baca Qur'an, lupa dzikir, lupa halal-haram dalam mencari harta.

"Ada juga terjadi pada zaman jahiliah berbangga-bangga dengan anak. Keluarga Al-Walid mengatakan, 'siapa di antara kalian yang paling banyak anaknya daripada aku?' Lalu Allah turunkan surah At-Takatsur sebagai peringatan," kata Amir.

Baca juga: 6 Kitab Tafsir Al-Qur'an dari Nusantara

Amir menjelaskan, nasib manusia ada di tangan Allah. Bisa jadi hari bergeliman harta, namun esok jatuh miskin. Maka, tidak perlu dibanggakan, sebab sehelai benang di badan dan setetes air masuk ke dalam tubuh semua milik Allah.

"Mungkin hari ini menang, lebih banyak penghasilan, tapi besok dia lebih sedikit. Karea nasib di tangan Allah. Jadi, tetap berjuang maksimal, tapi hati tetap tawadu. Dapat alhamdulillah, tidak dapat berarti belum rezeki. Dengan ini kita akan tenang, kita akan bahagia," tutur Amir.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)