LANGIT7.ID, Jakarta - Berbakti kepada orang tua merupakan akhlak mulia seorang anak kepada sosok yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Dalam sebuah hadits disebutkan, berbakti kepada orang tua sama dengan berjihad di jalan Allah.
Dalam sebuah hadits yang diceritakan Abdullah bin Amr bin Ash, “Ada seseorang yang mendatangi Nabi SAW, dia ingin meminta izin untuk berjihad. Nabi SAW lantas bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Ia jawab, 'Iya masih.’ Nabi SAW pun bersabda, ‘Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.’” (HR. Muslim)
Baca juga: Kisah Uwais Al-Qarni: Terlupakan di Bumi, Terkenal di LangitPerintah berbakti kepada orang tua telah ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam Surah Al-Isra ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Buya Yahya, mengatakan, kasih orang tua tidak ada batas. Berbakti kepada orang tua merupakan jalan menuju kebaikan. Allah telah menjamin hal itu. Siapapun yang berbakti kepada orang tua, dia akan mendapatkan kebaikan.
“Para ahli tarbiyah mengatakan, Kalau Engkau ingin melihat masa depan, lihatlah baktimu kepada orang tua. Kalau mau melihat masa depan anak-anak masa sekarang, maka lihatlah urusannya dengan orang tuanya,” kata Buya Yahya melalui kanal
YouTube-nya, dikutip Selasa (29/3/2022).
Allah akan memberi kebaikan kepada orang yang baik dan tulus berbakti kepada orang tua. Anak yang berbakti kepada orang tua dan beriman, maka dia akan diberi kebaikan di dunia dan di akhirat. Jika sang anak kafir, maka kebaikan itu hanya diberikan di dunia saja.
Baca juga: Menikah dengan Niat Hindari Zina, Ini Jawaban Buya YahyaAda kisah tentang seorang gadis remaja yang kafir tapi sangat berbakti kepada orang tuanya. Suatu hari, dia dipukul oleh ibunya. Akibat pukulan itu, tangan kanan yang kena pukulan tidak dapat berfungsi. Namun, ia tidak marah.
Pada usia 18 tahun dia sudah mulai sukses. Pada saat bersamaan ibunya stroke, tidak bisa berjalan dan hanya duduk di atas kursi roda. Namun sang anak bukan benci, tapi malah tambah menyayanginya. Ibunya meninggal saat sang anak berusia 40 tahun.
“Saat anak tidak pernah marah dan tidak pernah dendam kepada orang tuanya. Allah memberi dia kebaikan di dunia saja, meski dia orang kafir. Makanya, biar pun orang kafir tapi baik kepada bapak ibunya maka akan benar hidupnya. Sementara ahli iman, kebaikan di dunia plus kebaikan di akhirat,” ucap Buya Yahya.
(jqf)