LANGIT7, Jakarta -
Ramadhan 1443 Hijriyah sudah selesai dengan digemakannya takbir dan mendirikan
Shalat Idul Fitri.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengajak umat Islam menjaga ketaqwaan usai Ramadhan.
Ketua Umum MUI Jawa Timur,
KH M Hasan Mutawakkil Alallah mengajak muslimin kembali merenungkan ibadah Ramadhan. Apakah turut berpengaruh pada kualitas keimanan dan ketakwaan setelah bulan suci.
Baca Juga: Mengenal Sunnah Qunut saat Shalat Witir Selama Ramadhan"Sebab sebagaimana kita tahu, disyariatkannya ibadah puasa adalah untuk membentuk kualitas mukmin yang bertakwa," kata KH Hasan dikutip laman MUI Jatim, Senin (2/5/2022).
KH Hasan menjelaskan, takwa adalah perasaan takut kepada Allah dan mengamalkan syariat Allah dan Rasulnya. Kemudian, takwa adalah senantiasa merasa cukup dengan apa yang ada dan mempersiapkan diri dalam menghadapi hari akhir (kiamat).
Penjelasan itu mengutip perkataan Amirul mukminin
Khalifah Umar bin Khattab tentang hakikat takwa. Ada empat poin penting dalam perkataan Umar bin Khattab RA ini.
Baca Juga: Riset IDEAS: Potensi Zakat Fitrah 2022 Tembus 6,7 TriliunPertama, takwa adalah rasa takut (khauf) kepada Allah. Khauf pada umumnya akan membuat seseorang menjauh atau menghindar dari yang ditakutkan, tetapi ada khauf yang justru sebaliknya menjadikan seseorang mendekat terhadap apa yang ia takuti, yang disebut khasyiah. Allah dalam Surat al-Fathir, 28 menyatakan:
"
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang takut kepada Allah hanyalah ulama, yaitu orang yang berilmu dan memahami kebesaran dan kekuasaan Allah. Oleh karena itu, peran ilmu sangat penting. Bagaimana dapat merasakan takut kepada Allah SWT, sedangkan dirinya tidak berilmu, tidak mengerti akan keagungan-Nya.
Baca Juga: Maksimalkan Ibadah Akhir Ramadhan: Penuhi Masjid, Bukan MalKedua, amal saleh. Firman Allah dalam Surat an-Nahl 97: "
Barangsiapa yang beramal shalih, baik dari laki-laki atau perempuan, dan dirinya beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."Ayat ini gamblang menyebutkan bahwa siapapun kita, laki atau perempuan, asalkan beriman kepada Allah SWT, maka amal shalih merupakan investasi terpenting. Karena siapapun yang berinvestasi dalam kehidupan dengan amal shalih, maka Allah akan memberikan keuntungan yang tiada tara, yaitu kehidupan yang lebih baik dan pahala di surga.
"Apapun yang kita lakukan, baik sebagai pribadi, sebagai bagian dalam keluarga, sebagai bagian dari masyarakat dan negara, maka yang telah diperbuat akan dimintai pertanggungjawaban. Sekali lagi, ini persoalan terkait dengan amal perbuatan manusia ini adalah persoalan serius," katanya.
Baca Juga:
Ciri Seseorang Dapat Lailatul Qadar, Hidupnya Jadi Luar Biasa
Jangan Keliru, Ini Kelompok yang Tidak Boleh Diberi Zakat
Allah SWT Hanya Minta Sedikit Hartamu untuk Kewajiban Zakat(asf)