LANGIT7.ID, Jakarta - Baru-baru ini warganet di Twitter dihebohkan dengan perseteruan antar fans
K-Pop. Salah satu fans K-Pop menghina artis K-Pop yang diidolakan fans lainnya. Fans yang artisnya dihina bahkan mengancam akan menuntut pihak yang menghina idolanya ke meja hijau.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, menjelaskan, muslim memiliki rambu-rambu mengidolakan seseorang. Apabila budaya yang diidolakan bertentangan dengan budaya seorang muslim, maka lebih baik ditinggalkan. Namun, jika tidak bertentangan, maka boleh-boleh saja.
"Sudah kasih rambu-rambu, datangnya dari mana pun, selagi itu bertentangan dengan budaya atau bukan dari budayanya orang beriman akan mengangkat syiar orang tidak beriman, dari ini saja hendaknya ini kita hindari," kata Buya Yahya di Al-Bahjah TV, Jumat (20/5/2022).
Baca Juga: K-Pop Makin Marak, Muhammadiyah Minta Pemerintah Perbaiki Pendidikan Budaya
Dalam hal ini bukan hanya K-Pop saja, namun semua figur publik ataupun budaya yang kerap menjadi idola masyarakat. Buya Yahya menyebut banyak grup yang selalu diidolakan masyarakat luas. Seorang muslim tingga melihat rambu-rambu yang telah ditetapkan syariat.
"Mungkin saat ini yang lagi nge-booming, ngetren, atau lagi nyebar, yaitu K-Pop. Sebetulnya yang lain juga banyak, maka orang beriman itu tidak melihat, kita tidak mengomentari tentang K-Pop itu," kata Buya Yahya.
Buya Yahya menerangkan, persoalan mengidolakan seseorang, tontonan, atau suatu budaya bukan lagi persoalan halal atau tidak halal.
"Bukan itu saja, lebih dari itu, syiar siapa? Harus gitu dong ini kan punya iman. Anggap saja di tontonan K-Pop tadi tidak ada pelanggaran syariat, (tapi) ini syiar apa kira-kira?" tutur Buya Yahya.
Apabila hanya demi kesenangan semata, maka kenikmatan itu bisa dicari dari budaya muslim lainnya. Banyak budaya, figur publik, atau seniman muslim yang bisa jadi idola. Itu bisa menggantikan idola-idola yang tidak membawa syiar Islam.
"Itu kan ada urusannya dengan iman, kalau urusan kesenangan dari Allah, orang bisa senang hanya dengan main kelereng kan, orang bisa senang dengan petak umpet, orang bisa senang dengan apa, maka kesenangan pun kita bisa memiliki, kesenangan yang tidak bertentangan dengan syariat," ucap Buya Yahya.
Baca Juga: Korea Bukan Hanya K-Pop dan Drama, Islam juga Berkembang di Sana
Kesenangan juga harus dihubungkan dengan maksud syiar yang bermanfaat bagi seorang muslim. Akan lebih baik jika seorang muslim mengikuti budaya lain yang sesuai dengan akidah yang sama.
"Kita angkat syiar yang mengangkat martabat. Kita masih punya budaya-budaya lokal yang dibangun atas dasar akidah, atas dasar keimanan. Banyak tradisi-tradisi kita dari Sabang sampai Merauke," jelas Buya Yahya.
(jqf)