LANGIT7.ID - , Jakarta - Banyak orang melewatkan
sarapan karena tidak terbiasa makan di pagi hari atau karena bahkan tidak nafsu. Padahal, kebiasaan tidak sarapan punya sejumlah dampak buruk pada
kesehatan.
Ahli Gizi Universitas Padjadjaran dr. Siska Wiramihardja, Sp.GK., M.Kes., menjelaskan, sarapan memiliki dua peran penting bagi tubuh.
Pertama sebagai sumber energi bagi otak. Makan pagi menyediakan zat gizi utama yang dibutuhkan otak setelah habis berpuasa melalui istirahat di malam hari.
Baca juga: Pentingnya Sarapan sebelum Beraktivitas, Buru-Buru Bukan Alasan“Sarapan dapat meningkatkan fungsi kognitif otak, lebih konsentrasi dan fokus yang memungkinkan performa ujian menjadi lebih optimal,” tutur Siska melalui laman resmi Universitas Padjadjaran.
Selanjutnya, sarapan berperan melindungi tubuh dari penyakit. Terlebih di masa transisi menuju endemi, Siska menjelaskan tubuh membutuhkan imunitas yang optimal.
Salah satu upaya meningkatkan imunitas tubuh adalah menerapkan pola gizi seimbang sesuai rekomendasi
WHO. Kemenkes RI sendiri memasukan sarapan sebagai salah satu dari sepuluh pesan gizi seimbang.
Dikutip Senin (6/2/2023), makan pagi menyediakan sekitar 20 persen dari kebutuhan nutrisi harian, sehingga asupan energi, vitamin, dan mineral dapat lebih terpenuhi.
Ini memungkinkan tubuh untuk dapat melakukan fungsinya secara optimal, termasuk di antaranya meningkatkan imunitas tubuh.
Lebih lanjut Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad tersebut mengatakan, selain dua fungsi di atas, sarapan membantu menjaga suasana hati (
mood) sehingga tidak mudah emosi dan tetap tenang.
“Sarapan juga membantu mencapai/menjaga berat badan ideal sehingga dapat menurunkan risiko berbagai penyakit,” terangnya.
Baca juga: 5 Makanan Sehat untuk Sarapan Ini Beri Energi dan Jaga Mood Sepanjang HariBeberapa dampak yang ditimbulkan ketika mengabaikan sarapan adalah lambung menjadi kosong terlalu lama. Hal ini akan memicu meningkatnya asam lambung sehingga dapat menimbulkan mual, dan muntah. Asupan gizi ke tubuh juga akan berkurang, sehingga kadar gula darah menjadi sangat rendah.
“Pada kondisi tertentu dapat menimbulkan gejala timbul keringat dingin, mata berkunang-kunang, lemas, bahkan pingsan,” tutur Siska.
Sejumlah penelitian menunjukkan, mereka yang melewatkan sarapan memiliki kadar hormon stres lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang melakukan. Selain itu, melewatkan sarapan dapat mengganggu suasana hati dan menurunkan produktivitas.
“Hal ini makin meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, dan lain-lain,” ucap Siska.
Siska memaparkan, menu sarapan ideal sebaiknya mengandung bahan makanan sumber karbohidrat (pilihan makanan: nasi, tim, bubur, lontong, kentang, ubu, singkong, jagung, mi, atau roti), bahan makanan sumber protein hewani dan nabati (telur, ayam, ikan, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, hingga tempe), serta serat dari sayuran dan buah-buahan.
Ketiga bahan makanan tersebut wajib ada dalam menu makan pagi. Buah-buahan sendiri dapat menjadi makanan atau minuman penutup atau dapat dikonsumsi sebagai camilan selepas menjalani ujian.
“Bagi penyuka sereal, dapat memilih rolled oat dengan kandungan kacang dan buah-buahan, dikonsumsi dengan yoghurt/susu, atau dengan salad sayuran,” terangnya.
Baca juga: Hindari Sarapan Ini Jika Ingin Berumur PanjangSiska pun menyarankan untuk menghindari sarapan atau makan dengan menu tidak lengkap. Misalnya, hanya minum susu saja tanpa ada sumber karbohidrat atau serat.
(est)