LANGIT7.ID, Jakarta - Istilah menunggu panggilan
berhaji dinilai kurang tepat. Sebab seruan untuk menunaikan ibadah rukun Islam kelima itu sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim.
Pendakwah,
Habib Abdurrahman Asad Al-Habsyi menjelaskan, pernyataan tersebut merupakan sebuah pemahaman keliru. Pasalnya, ibadah haji sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim.
"Pemahaman yang salah kalau
haji itu panggilan. Haji memang panggilan, tapi sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim," kata dia kepada Langit7, Selasa (7/6/2022).
Seruan haji, kata dia, telah tertulis dalam Al-Quran. Artinya, setiap muslim telah mendapatkan panggilan untuk haji.
Baca Juga: Kiswah Kain Penutup Kakbah Diangkat Jelang Haji, Ini Alasannya"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh," (QS. Al Hajj: 27).
"Panggilan ini sudah ada, bahkan ada orang yang tidak punya duit, tapi dia bersungguh-sungguh menjawab panggilan. Ada juga orang yang punya duit, tapi tidak berangkat haji, karena tidak serius menjawab panggilan ini, ogah-ogahan," jelasnya.
Menurutnya, penting bagi kaum muslimin untuk menyambut panggilan ini dengan niat dan keseriusan. Adapun urusan tertunda atau batal, menjadi perkara lain.
"Tugas kita itu serius menjawab panggilan. Hati kita ada keinginan kuat untuk berangkat, lalu usaha untuk mendaftar. Jadi berangkat atau tidak, tertunda atau tidak, itu masalah lain," tegasnya.
Lebih lanjut, Ketua Majelis Taklim dan Dzikir Baitul Muhibbin ini mengatakan, bila umat sudah berniat dan meninggal dunia sebelum berhaji, setidaknya niat tersebut menjadi hal baik yang dicatat oleh malaikat.
"Jadi tugas kita menjawab panggilan itu dengan usaha, karena Allah tahu kita punya keinginan kuat berhaji. Bisa jadi orang yang baru punya niat kuat, malah terlaksana untuk berangkat haji, seperti menggantikan orang sakit atau meninggal dunia," katanya.
(bal)