Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Habib Rahman Habsyi: Ingin Surga Akhirat, Ciptakan Dulu Surga di Dunia

Muhajirin Kamis, 05 Agustus 2021 - 10:33 WIB
Habib Rahman Habsyi: Ingin Surga Akhirat, Ciptakan Dulu Surga di Dunia
Ilustrasi rasa syukur dan taqwa hamba kepada Allah SWT Foto: Langit7.id/Istock
LANGIT7.ID - Semua manusia pasti menginginkan kehidupan bahagia dalam dua dimensi, yakni di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua surga” (QS. Ar Rahman: 46). Demikian disampaikan oleh Habib Abdul Rahman Al Habsyi.

Pilihan kebaikan itu, menurut Habib Al Habsy, terdapat pada diri sendiri. Demikian pula pilihan keburukan. Hamba Allah yang beriman pasti menginginkan kehidupan bahagia di dunia dan akhirat. Para ulama saat menafsirkan ayat di atas mengatakan, seorang hamba mustahil mendapatkan surga akhirat jika tidak mampu ciptakan surga dunia.

“Jadi, syarat untuk sampai pada surga akhirat, maka ciptakan terlebih dahulu surga di dunia. Lalu apa itu surga dunia? Ketika seorang hamba merasakan mudah, merasakan nikmat, dan senang serta sungguh-sungguh melaksanakan segala macam bentuk syariat Allah Ta’ala, maka itu adalah surga dunia baginya, dan memudahkan untuk mendapatkan surga akhirat,” tutur Habib Rahman, melalui tayangan Youtube MTT.

Ada tiga syarat penting jika ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Syarat itu yakni:

1. Terus Berusaha Merawat Takwa
Takwa dalam artian menjalani segala macam bentuk perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Takwa dalam arti menghadirkan cinta yang begitu besar dan sungguh-sungguh hanya kepada Allah.

Perintah takwa adalah perintah yang serius, yang termaktub dalam Al-Qur’an sebanyak 115 ayat. Allah Ta’ala memerintahkan hamba-nya merajut ketakawaan, karena itu merupakan bekal hidup di dunia dan akhirat.

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS Al-Baqarah: 197).

Takwa merupakan pesan yang paling sering disampaikan oleh Rasulullah SAW. Bahkan dalam sebuah hadits beliau mengingatkan, “bertakwalah kalian di mana pun berada.” (HR. Ahmad dan Tirmizi). Ini berarti setiap manusia dalam setiap derap langkah, tarikan napas, detakan jantung, alam pikiran, dan aktivitasnya harus diiringi dengan nuansa takwa yang sungguh-sungguh kepada Allah.

Takwa tidak sekedar dibangun di masjid atau pun majelis taklim. Tapi takwa dibangun dalam kehidupan, dalam bisnis, dalam pergaulan, dalam interaksi sehari-hari. Saking seringnya takwa disebut, sehingga Rasulullah SAW setiap kali berkhutbah Jumat, menyitir firman Allah tentang takwa. Baik khutbah pertama dan kedua. Sehingga menjadi salah satu rukun khutbah.

2. Menghadirkan Rasa Syukur
Untuk mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat, maka seseorang harus menghadirkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Syukur yang tak bertepi. Syukur yang tak ada habis-habisnya. Syukur yang menurut Imam Ibnu Qayyim, dalam setiap untaian kalimat syukur yang engkau persembahkan kepada Allah, masih membutuhkan ungkapan syukur berikutnya.

Pada akhirnya, syukur itu menghadirkan kebahagiaan bagi seseorang. Syukur yang mencegah seseorang dari bencana dan musibah. Syukur disebut 75 kali dalam Al-Qur’an, berbanding sama dengan kata ‘bala’.

“Lalu apa hikmah ilahiyah yang terkandung di dalamnya? Allah tegaskan, bahwa hamba Allah yang pandai bersyukur akan Allah cegah dari segala macam bentuk bencana, musibah, dan ujian,” ucap Habib Rahman.

Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak akan menghukum kamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan, Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui." (QS an-Nisa' [4]: 147).

Jika penduduk suatu negeri banyak bersyukur dan kuat imannya, maka negeri itu akan dijauhkan dari bala atau musibah. Syukur merupakan lambang penghambaan manusia kepada-Nya. Syukur merupakan lambang ingat manusia kepada-Nya.

3. Menghadirkan Nuansa Taubat
Seseorang akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat jika menghadirkan nuangsa taubat yang sungguh-sungguh dalam hidupnya. Taubat dari kata ‘taaba yatubu’ yang bermakna kembali. Kata istighfar dan taubat sering terdengar setiap hari. Para ulama mengatakan, bahwa setiap hamba Allah yang bertaubat sudah pasti dia beristighfar. Tetapi tidak semua hamba Allah yang beristighfar, pasti dia bertaubat.

“Karena istighfar adalah reaksi spontanitas. Istighfar tidak memerlukan persyaratan. Ada pun taubat memerlukan persyaratan. Seorang hamba Allah yang mengaku bertaubat, maka sejatinya dia harus memenuhi syarat bertaubat,” ucap Habib Rahman.

Syekh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri membagi syarat taubat menjadi tiga, yakni:

Pertama, seseorang harus mengosongkan dirinya dari segala macam bentuk dosa dan kemaksiatan yang telah dia lakukan. Percuma merangkai kata taubat berkali-kali, tapi hidupnya masih bergelimang aneka kemaksiatan dan kedurhakaan.

Kedua, seseorang harus menyesali terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan pada masa lampau. Taubat itu tidak mungkin tegak berdiri kecuali diisi dengan rasa penyesalan yang begitu dalam di hadapan Allah.

Ketiga, memiliki tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut. Jika berada di lingkungan yang senantiasa mengantarkan pada kemaksiatan dan kedurhakaan, dia tinggalkan lingkungan tersebut.

Syarat penting dari taubat ini adalah saat dosa berkaitan dengan manusia, maka harus terlebih dahulu meminta maaf kepada orang yang telah menjadi objek kesalahan.

(arp)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)