LANGIT7.ID, Jakarta - Mantan Perdana Menteri Malaysia,
Mahathir Mohamad, menjadi sorotan setelah mengatakan Malaysia seharusnya mengklaim Kepulauan Riau menjadi bagian Negeri Jiran.
“Kita (Malaysia) harusnya tak hanya meminta Pedra Branca dikembalikan, atau Pulau Batu Puteh, kita juga harus meminta Singapura pun Kepulauan Riau, mengingat mereka adalah bagian dari Tanah Melayu,” kata Mahathir pada Ahad (19/6/2022), melansir The Straits Times.
Namun, jika ditelisik lebih jauh, pusat kebudayaan Melayu ada di wilayah Kerajaan Riau Lingga yang berpusat di wilayah yang menjadi bagian dari Indonesia. Bukan berada di wilayah Kerajaan Johor atau lainnya yang jadi bagian dari Malaysia.
Kerajaan Riau Lingga memiliki peran penting dalam perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi bentuknya sekarang sebagai bahasa Indonesia. Pada masa Kerajaan Riau Lingga, bahasa Melayu menjadi bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain di dunia.
Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Romantisme Pasang Surut Hubungan Indonesia Malaysia
Bahasa Melayu juga dikenal kaya dengan sastra dan memiliki kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan bahasa Melayu adalah Raja Ali Haji, seorang pujangga dan sejarawan keturunan Melayu-Bugis.
Peneliti BRIN, Dedi Arman menyebutkan Lingga merupakan negeri yang sangat penting dan strategis sebagai penerus Melaka pada era Kerajaan Johor sehingga Ibu Kota Kerajaan dipindah ke Lingga.
"Lingga menjadi pusat Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang pada era Sultan Mahmud Riayat Syah. Usai menang melawan Belanda di Tanjungpinang dalam Perang Riau II pada 13 Mei 1787, sultan berhijrah dan memindahkan pusat pemerintahan kesultanan ke Daik, Lingga pada 24 Juli 1787," kata Dedi, dikutip dari Media Kepri, Rabu (22/6/2022).
Sebelumnya, Lingga pernah menjadi pusat pemerintahan sementara Sultan Johor Abdullah Muayatsyah (1615-1623 M). Sekitar 5 tahun Sultan Abdullah Muayatsyah didampingi Laksamana Tun Abdul Jamil di pusat kerajaannya di Lingga, sebelum berpindah lagi ke Pulau Tambelan di Laut Cinta Selatan.
Di periode Sultan berikutnya, Daik menjadi pusat Kesultanan Lingga-Riau-Johor-Pahang menggantikan Kota Lama di Tanjungpinang. Peranan Daik sebagai pusat pemerintahan negara Melayu berterusan sampai 1900 atau kurang lebih 113 tahun.
Baca Juga: Wawancara Khusus Mahathir Mohamad: Peradaban Islam Bangkit jika Muslimin Amalkan Nilai Keislaman
7 Warisan Budaya Bangsa Melayu di Kepulauan RiauKepulauan Riau bisa dikatakan salah satu leluhur kebudayaan Melayu. Ini bisa dilihat di Pulau Penyengat. Pulau ini digelari surga warisan budaya Melayu oleh Marsis Sutopo, ahli arkeologi yang sudah malang-melintang dalam berbagai kegiatan pelestarian alam.
Mengutip laman Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek, Marsis menyampaikan, Pulau Penyengat merupakan warisan budaya dengan sejuta pesona yang menyimpan tapak-tapak sejarah terkait eksistensi dan kejayaan Kerajaan Melayu Riau pada masanya.
Dari serpihan sejarah yang tertinggal kemegahan Kerajaan Melayu, Lingga masih bisa dinikmati. Terdapat 46 peninggalan Cagar Budaya yang ada di Pulau Penyengat, baik berupa bangunan utuh maupun sisa-sisa pondasi, tapak, masjid, perigi/sumur, benteng bukit kursi, makam, dan lain-lain.
Semua itu merupakan bukti otentik dengan nilai-nilai luar biasa dan sangat berharga. Itu menjadi bukti yang tak terbantahkan bahwa di pulau kecil itu roda pemerintahan kerajaan Melayu dijalankan.
Salah satu peninggalan paling menyedot perhatian adalah makam Bapak Bahasa Melayu-Indonesia, Raja Ali Haji. Dia lahir pada 1808 di Selangor, Malaysia. Dia merupakan anak dari Opu Daeng Celak atau Engku Haji, seorang bangsawan Bugis yang pindah ke Riau.
Baca Juga: Bahasa Melayu Diusulkan Jadi Bahasa Kedua ASEAN
Raja Ali Haji meninggal pada 1837 dan dimakamkan di Pulau Penyengat. Dia dimakamkan di sebuah komplek pemakaman yang dilengkapi bangunan beton dengan cat kuning.
Marsis mengatakan, Pulau Penyengat memiliki potensi kebudayaan yang sangat luar biasa dan melekat dengan kebudayaan Indonesia. Setidaknya ada 7 unsur kebudayaan di Pulau tersebut.
Pertama, sistem religi yang menghasilkan benda-benda purbakala. Sebagian besar merupakan hasil manifestasi sistem religi. Manifestasi yang bisa ditemui adalah masjid dan makam yang saat ini menjadi pusat wisata religi dan ziarah.
Kedua, sistem pengetahuan. Unsur ini juga dapat ditemukan di Pulau Penyengat, di antaranya peninggalan gedung tabib. Gedung itu menjadi bukti pengobatan pada masa itu sudah sangat maju.
Keempat, sistem peralatan hidup atau teknologi.
Kelima, organisasi sosial yang telah berbentuk kerajaan di Pulau Penyengat pada masa itu.
Keenam, sistem bahasa. Berdasarkan salah satu unsur kebudayaan ini, Pulau Penyengat tentu mempunya tempat Istimewa sendiri. Kerajaan Melayu Pulau Penyengat memiliki kontribusi besar dalam perkembangan bahasa Melayu cikal-bakal bahasa Indonesia.
Baca Juga: Pesona Pulau Penyengat, Simpan Banyak Peninggalan Sejarah
Pulau ini juga menjadi tempat berkembangnya sastra Indonesia yang diprakarsai Raja Ali Haji. Dia telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional yang merelakan jiwanya terpisah dari raga melawan kolonial Belanda.
Ketujuh, kesenian. Membicarakan seni di Pulau Penyengat tidak akan ada habisnya. Senin yang juga lekat dengan sastra sangat kental di sini salah satunya Gurindam XII karya Raja Ali Haji. Ada juga tari Zapin yang diciptakan Ncik Ripin dari Kalimantan, yang diciptakan pada 1811.
Selain itu, di Pulau Penyengat juga dimakamkan banyak Raja-raja Melayu dan keluarga istana. Salah satu yang paling terkenal adalah Makam Raja Haji Fisabilillah. Dia mati syahid saat memimpin perang melawan armada laut Belanda pada tahun 1784 dan merupakan pahlawan nasional Indonesia.
(jqf)