LANGIT7.ID, Jakarta -
Buya Arrazy Hasyim merupakan seorang ulama, mubaligh, sekaligus pengasuh majelis tasawuf Ribath Nouraniyah Hasyimiyah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
Ribath Nouraniyah merupakan majelis kajian turats (kitab klasik), ilmu akidah, tasawuf dan amaliyah zikir di Ciputat. Dalam kajiannya, baru-baru ini Buya Arrazy sempat membuat kontroversi dengan mempopulerkan konsep ‘nama ruh’. Dia mengatakan, setiap orang memiliki nama ruh pemberian Allah Ta’ala.
Menurut dia, seseorang dapat mengetahui nama ruhnya Jika terkoneksi dengan al-ghauts, wali Allah keturunan Nabi Muhammad. Dia mengaku pernah bertemu dengan al-ghauts. Dia juga menyebut orang-orang di Ribath Nouraniyah memiliki koneksi dengan al-ghauts.
Dia mengatakan, referensi kitab terkait nama ruh, memiliki rujukan yang kuat dari ulama sufi terdahulu. Kitab al-Gunyah karangan Syekh Abdul Qodir Jaelani, disebut-sebut membahas konsep nama ruh.
Baca Juga: Putra Buya Arrazy Meninggal, Diduga Tertembak Senjata Api Patwal
Selain Al-Gunyah, ada satu rujukan lagi yang berbicara tentang nama ruh, yakni kitab Rasail Ibnu Sab’in karya ulama sufi Ibnu Sab’in. Pada satu kesempatan, Ibnu Sab’in berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, Allah menamakan engkau Abul Haq, jangan lupakan nama ini sampai mati yak.”
Nama-nama tersebut, kata Buya Arrazy, yang menghubungkan manusia dengan Allah, yakni hubungan kekasih. Dengan nama itu, maka Allah akan memanggil manusia “Wahai hamba-Ku’. “Inilah nama-nama walayah,” kata Buya Arrazy, di kanal AL-BadR Channel, dikutip Kamis (23/6/2022).
Menanggapi beberapa kontroversinya, asosiasi yang menaungi tarekat tasawuf di Indonesia, Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) sempat mengundang Buya Arrazy untuk melakukan tabayun.
Ulama Muda Pembelajar Pemegang Banyak SanadKendati sempat membuat kontroversi, namun Buya Arrazy adalah seorang pembelajar yang memiliki banyak guru dan memegang banyak sanad keilmuan.
Selain dibimbing Syaikh. Prof. Dr. Ali Mustofa Yaqub, Buya Arrazy juga mendapatkan sanad hadits dari salah satu penguji disertasi Doktoral Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut, yakni Syaikh al-Hadits Dr. Khoja Muhammad Sharif dari Haydarabad, India.
Dia juga mendapatkan ijazah Hadits dari Syaikh al-‘Arif Dr. Muhammad ‘Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili dari Yaman, murid dari Syaikh Saif bin Ahmad al-Alawi, Hasan Masysyath, Amin al-Kutbi, dan al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani al-Makki.
Buya Arrazy juga menerima ijazah dari murid-murid al-Musnid Muhammad Yasin al-Fadani lainnya seperti Syaikh Zakariya al-Halabi al-Makki, Syaikh Abdul Mun’im bin Abdul Aziz al-Ghumari, Syaikh Zakwan al-Batawi al-Makki, dan lain-lain.
Baca Juga: Putra Buya Arrazy Wafat Tertembak Senpi, Keluarga Serukan Shalat GhaibDalam aqidah Ahlus Sunnah, dia mengambil dari Syaikh al-Syuyukh Dr. Muhammad Hasan Hitoo.
Dalam Fiqh mazhab al-Syafi’i, dia mempelajarinya dari Syaikh Dr. Taufiq bin Muhammad Sa’id al-Buti, Nahw dari Syaikh Dr. Ayman Syawwa al-Dimasyqi, ulum al-Hadits dari Syaikh Dr. Badi’ Sayyid al-Lahham. Dia mulazamah kepada masyaikh Damaskus tersebut sebelum Syaikh Dr. Muhammad Hasan Hito mendirikan STAI al-Syafi’i di Cianjur.
Dalam ilmu zikir dan Tasawuf, dia mendapatkan ijazah dari Syaikh Mawla Kasril al-Khalidi, Syaikh Dr. Muhammad Abdurrabb al-Nazhari al-Syadzili, Syaikh Darilis bin Hasan Basri al-Naqsyabandi al-Sammani, dan lainnya.
Riwayat Pendidikan dan DakwahBuya Arrazy lahir di Koto Tangah, Payakumbuh, Sumatera Barat pada 1986 dari pasangan Nur Akmal bin M. Nur dan Asni binti Sahar. Dia menempuh pendidikan SD sampai MTsN di Payakumbuh, lalu pindah ke Bukittinggi melanjutkan MAN/MAKN 2 Bukittinggi (2002-2004).
Pada 2004-2009, dia melanjutkan studi perguruan tinggi di jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah. Setahun sebelumnya, dia menyelesaikan kajian hadits di Darussunnah.
Di Darussunnah dia mengkhatamkan 6 kitab hadits yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibn Majah di bawah bimbingan Syaikh KH Dr. Ali Mustofa Yaqub.
Pada setiap pertengahan tahun, dari 2006-2008, dia aktif belajar kepada Syaikh Prof Dr. M. Hassan Hitoo (penghafal kita al-Muwatta’), Dr Badi Sayyid al-Lahham (murid Syaikh Nuruddin Itr), dan Taufiq al-Buti anak dari Syaikh Muhammad SAid Ramadan al-Buthi. Mereka semua dari Suriah.
Baca Juga: Kala Selebritas Khusyuk Mengaji Tasawuf kepada Buya ArrazyPada 2009-2011, Buya Arrazy menyelesaikan Magister S2 di SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu, pada 2012-2017, dia menyelesaikan Doktoral S3 di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada 2016-2017, dia mendapatkan kesempatan mengisi aktivitas dakwah dan seminar di KBRI Paris, KJRI Marseille, dan komunitas muslim lain di Prancis. Dia juga menjadi dosen ilmu Kalam dan Filsafat Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah pada 2012-2019. Selain itu, dia aktif mengajar kitab Aqidah Ahlus Sunnah di Pesantren Darussunnah.
Pada 2018, dia mendirikan Ribath al-Nouraniyah di Tangerang Selatan, takhassus Ilmu Akidah Ahlus Sunnah dan Tasawuf.
(jqf)