LANGIT7.ID, Jakarta - Banyak orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri favorit karena terganjal sistem zonasi saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Sekolah Islam Terpadu (SIT) bisa jadi solusi bagi para orang tua. Apalagi jika ingin anak tak sekadar jadi pintar tapi punya pemahaman keislaman yang baik.
Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Jaringan
Sekolah Islam Terpadu (JSIT), Ahmad Fikri, M.Pd, menuturkan, salah satu keunggulan SIT adalah anak didik akan mendapatkan pelajaran agama lebih banyak ketimbang sekolah umum.
Anak didik juga dididik untuk memiliki karakter mulia dan tetap mendapatkan kompetensi akademik yang berkualitas.
“Banyak testimoni para ortu kemudian mengaminkan hal-hal tersebut dapat terpenuhi dengan menyekolahkan anaknya di SIT,” kata Fikri kepada LANGIT7.ID, Jumat (15/7/2022).
Baca Juga: Benarkah Biaya Pendidikan di Sekolah Islam Terpadu Mahal?
Padukan Ilmu Pengetahuan Umum dan Ilmu AgamaSekolah Islam Terpadu (SIT) menggunakan kata 'terpadu' dalam penyebutan sekolahnya sebab memadukan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum.
“DI SIT lebih kepada bagaimana implementasi keterpaduan dan penyatuan antara konsep pendidikan agama dengan pendidikan karakter serta pendidikan umum yang dikemas dalam satu paket pembelajaran dan pengajaran tanpa dipecah menjadi materi-materi yang terpisah,” jelas Fikri.
Dengan kata lain, nilai-nilai keislaman selalu menjiwai atau menjadi ruh dalam pembelajaran dan pengajaran Pendidikan karakter dan pelajaran di SIT. Para tenaga pendidik juga diharuskan memiliki keterpaduan antara ilmu agama, ilmu umum, ilmu sosial dan praktik-praktiknya.
“Agar mereka (tenaga pendidik) dapat menyampaikannya secara komprehensif kepada para peserta didik,” ucap Fikri.
Secara umum, Fikri menyebut SIT memiliki kesamaan dengan madrasah yang ada di Indonesia. Yakni sama-sama memiliki tujuan mendidik siswa mendapatkan penguasaan ilmu tentang Islam dan mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Mengapa Sekolah Islam Terpadu Jadi Favorit Pilihan Orang Tua?Dalam praktiknya, kata Fikri, SIT maupun madrasah juga menerapkan pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan akidah, akhlak, Al-Qur’an, dan bahasa Arab serta sejarah Islam.
Kualitas Lulusan Sekolah Islam Terpadu. Profil dari lulusan SIT pada dasarnya mengacu pada standar kompetensi kelulusan yang ditetapkan Kemendikbud-Ristek RI. Namun tak hanya itu, standar itu disempurnakan dengan muatan kompetensi lulusan khas SIT yang termaktub dalam buku standar mutu kekhasan SIT.
“Sejalan dengan itu, kurikulum merdeka belajar yang saat ini sedang digencarkan oleh pemerintah, maka SIT pun tengah berusaha semaksimal mungkin untuk juga mewujudkan profil pelajar Pancasila sebagai point penting yang harus diwujudkan sebagai
output peserta didik SIT,” ujar Fikri.
Sederhananya, profil lulusan sebagai pelajar Pancasila di SIT menekankan pada aspek pembentukan akhlakul karimah dan ketakwaan dalam diri siswa. Di samping itu, ada pula aspek lain yang menjadi bagian penting profil pelajar Pancasila itu sendiri.
Baca Juga: Alasan Utama Orang Tua Harus Masukkan Anak ke Sekolah Muhammadiyah
Dari sisi pendidik, Fikri menyebut para pendidik SIT selalu menjaga kualitas pendidikan SIT dengan mengimplementasikan standar mutu kurikulum SIT. Dalam standar mutu itu digambarkan secara detail cara menjaga kualitas dengan memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan.
"Di sisi lain misalnya di mulai dari melihat parameter
input dan
output siswa dari sekolah tersebut,” ujar Fikri.
Kemudian, dengan standar proses yang baik, maka sekolah dengan input siswa yang kurang ideal pun akan dapat tetap menghasilkan
output lulusan yang berkualitas.
“Sekolah yang memiliki proses pendidikan yang bagus tentu selalu mencari cara bagaimana metode pengajaran yang tepat untuk peserta didik mereka yang karakternya dan latar belakangnya berbeda-beda,” ujar Fikri.
Baca Juga: Orang Tua Harus Tahu, Ini Beda Sekolah Muhammadiyah dengan Sekolah Islam Lain
SIT juga didukung tenaga pendidik, SDM guru, dan pendidik yang berdedikasi tinggi dengan kompetensi baik pula. Itu agar SIT bisa selalu menemukan cara dan metode yang tepat dalam proses pendidikan di sekolah tersebut.
“Dan juga tentunya standar kekhasan SIT yang ada,” tutur Fikri.
(jqf)