LANGIT7.ID - , Jakarta - Mendidik anak sesuai perintah Alquran dan
teladan Rasulullah bertujuan untuk membentuk akhlak atau pribadi yang baik. Namun, hal tersebut mempunyai tantangan tersendiri, khususnya bagi umat Muslim yang tinggal di luar Indonesia, seperti Jepang.
Kepala Sekolah YUAI Japan International Islamic School Yetti Dalimi membagikan sejumlah tips mendidik anak secara Islami di Jepang.
Pertama yang harus dilakukan adalah membangun kedekatan dengan anak. Menurut Yetti, membangun ikatan ini bisa dengan memberikan afeksi secara fisik seperti pelukan, kecupan, maupun psikis seperti perhatian dan apresiasi.
Baca juga: Ini Usia Ideal Menyekolahkan Anak menurut Pakar Neuroparenting“
Attachment kepada anak itu penting sekali karena membangun rasa
secure, rasa aman. Banyak permasalahan anak-anak karena mereka merasa
insecure, merasa tidak aman,” kata Yetti.
Anak yang merasakan
insecure dan tidak aman dapat memunculkan masalah tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Akibatnya, anak sering menjadi tantrum karena kesal dan stres.
Kemudian, membangun
attachment dengan memanfaatkan momen berkualitas. Orang tua bisa memanfaatkan waktu saat anak bangun tidur dan saat akan tidur. Momentum merupakan waktu terbaik untuk membangun ikatan kasih sayang.
“Banyak dipeluk, banyak bercerita, banyak komunikasi. Jadi komunikasi dengan anak itu bukan hanya interpersonal melainkan intrapersonal,” ujar Yetti dalam diskusi "Rambu-Rambu Mendidik Anak di
Negeri Islam Minoritas", Ahad (17/7/2022).
Menggunakan kalimat positif saat mengarahkan anak menjadi cara ketiga mendidikan anak di negeri Jepang. Sebagai agama minoritas, anak-anak perlu diajarkan kalimat baik dan positif, terutama saat memberi arahan.
Seringkali, sambung Yetti, anak-anak kerap melakukan perbuatan yang menurut orang tua tidak baik bukan karena anak tersebut ingin melakukannya, melainkan karena mereka tidak tahu.
Baca juga: Ramadhan di Norwegia: Durasi Puasa Lebih Lama dan Tantangan dalam Mendidik AnakSelanjutnya, orang tua harus menjadikan rumah sebagai zona nyaman anak. Bebaskan mereka untuk bermain untuk membangun kepercayaan diri si kecil. Jika orang tua memberlakukan banyak larangan, menurut Yetti itu sama dengan tidak memberikan kepercayaan diri pada anak.
"Semuanya serba permisif. Biarkan mereka pakai baju sendiri, kasih makan meskipun berantakan dan jatuh-jatuh, itu membangun rasa percaya diri,” kata Yetti seperti dikutip dari Antaranews, Senin (18/7/2022).
Tumbuhkan rasa nyaman di dalam rumah untuk membuat anak-anak merasa aman dari dunia luar yang sedang mengancam dan mencoba merobohkan identitas.
“Buatlah rumah itu tempat curhat, tempat mereka bebas berekspresi dengan membangun komunikasi yang baik,” katanya.
Langkah keempat adalah mengedepankan persamaan dibanding perbedaan. Menurut Yetti, sebagai agama minoritas di Jepang, anak-anak kerap menghadapi tantangan tersendiri seperti
bullying atau perundungan.
Perbedaan budaya antara di lingkung keluarga dengan lingkung pendidikan berpotensi memunculkan kebingungan pada anak. Apalagi bila tidak segera diatasi, memungkinkan anak mengalami krisis identitas.
Pun begitu, Yetti mengingatkan untuk tidak menyalahkan budaya orang. Beri kekuatan pada anak agar rasa percaya diri tumbuh.
“Yang harus kita lakukan adalah memberikan kekuatan kepada anak kita bahwa anak kita kuat meski di-
bully misalnya, bahwa anak kita tidak membenci mereka meski mereka berbuat tidak baik kepada kita,” katanya.
Yetti menjelaskan rasa aman, kasih sayang, rasa percaya diri yang ditanamkan pada anak sejak dini akan membentuk daya lenting atau
resilience.
Baca juga: Mendidik Anak Sejak Dini, Inspirasi Keluarga ImranMenurut sejumlah literatur, lanjut dia, daya lenting merupakan salah satu kecerdasan selain kecerdasan spiritual yang paling menentukan kesuksesan seorang anak.
Kelima, cari lingkungan yang mendukung. Yetti mengatakan bersosialisasi merupakan salah satu kebutuhan manusia, karena itu lingkungan yang mendukung penting bagi proses pendidikan anak.
(est)