Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita

Punya Tantangan Sendiri, Begini Tips Parenting di Negeri Minoritas Muslim

Fifiyanti Abdurahman Senin, 18 Juli 2022 - 17:26 WIB
Punya Tantangan Sendiri, Begini Tips Parenting di Negeri Minoritas Muslim
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Mendidik anak sesuai perintah Alquran dan teladan Rasulullah bertujuan untuk membentuk akhlak atau pribadi yang baik. Namun, hal tersebut mempunyai tantangan tersendiri, khususnya bagi umat Muslim yang tinggal di luar Indonesia, seperti Jepang.

Kepala Sekolah YUAI Japan International Islamic School Yetti Dalimi membagikan sejumlah tips mendidik anak secara Islami di Jepang.

Pertama yang harus dilakukan adalah membangun kedekatan dengan anak. Menurut Yetti, membangun ikatan ini bisa dengan memberikan afeksi secara fisik seperti pelukan, kecupan, maupun psikis seperti perhatian dan apresiasi.

Baca juga: Ini Usia Ideal Menyekolahkan Anak menurut Pakar Neuroparenting

Attachment kepada anak itu penting sekali karena membangun rasa secure, rasa aman. Banyak permasalahan anak-anak karena mereka merasa insecure, merasa tidak aman,” kata Yetti.

Anak yang merasakan insecure dan tidak aman dapat memunculkan masalah tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Akibatnya, anak sering menjadi tantrum karena kesal dan stres.

Kemudian, membangun attachment dengan memanfaatkan momen berkualitas. Orang tua bisa memanfaatkan waktu saat anak bangun tidur dan saat akan tidur. Momentum merupakan waktu terbaik untuk membangun ikatan kasih sayang.

“Banyak dipeluk, banyak bercerita, banyak komunikasi. Jadi komunikasi dengan anak itu bukan hanya interpersonal melainkan intrapersonal,” ujar Yetti dalam diskusi "Rambu-Rambu Mendidik Anak di Negeri Islam Minoritas", Ahad (17/7/2022).

Menggunakan kalimat positif saat mengarahkan anak menjadi cara ketiga mendidikan anak di negeri Jepang. Sebagai agama minoritas, anak-anak perlu diajarkan kalimat baik dan positif, terutama saat memberi arahan.

Seringkali, sambung Yetti, anak-anak kerap melakukan perbuatan yang menurut orang tua tidak baik bukan karena anak tersebut ingin melakukannya, melainkan karena mereka tidak tahu.

Baca juga: Ramadhan di Norwegia: Durasi Puasa Lebih Lama dan Tantangan dalam Mendidik Anak

Selanjutnya, orang tua harus menjadikan rumah sebagai zona nyaman anak. Bebaskan mereka untuk bermain untuk membangun kepercayaan diri si kecil. Jika orang tua memberlakukan banyak larangan, menurut Yetti itu sama dengan tidak memberikan kepercayaan diri pada anak.

"Semuanya serba permisif. Biarkan mereka pakai baju sendiri, kasih makan meskipun berantakan dan jatuh-jatuh, itu membangun rasa percaya diri,” kata Yetti seperti dikutip dari Antaranews, Senin (18/7/2022).

Tumbuhkan rasa nyaman di dalam rumah untuk membuat anak-anak merasa aman dari dunia luar yang sedang mengancam dan mencoba merobohkan identitas.

“Buatlah rumah itu tempat curhat, tempat mereka bebas berekspresi dengan membangun komunikasi yang baik,” katanya.

Langkah keempat adalah mengedepankan persamaan dibanding perbedaan. Menurut Yetti, sebagai agama minoritas di Jepang, anak-anak kerap menghadapi tantangan tersendiri seperti bullying atau perundungan.

Perbedaan budaya antara di lingkung keluarga dengan lingkung pendidikan berpotensi memunculkan kebingungan pada anak. Apalagi bila tidak segera diatasi, memungkinkan anak mengalami krisis identitas.

Pun begitu, Yetti mengingatkan untuk tidak menyalahkan budaya orang. Beri kekuatan pada anak agar rasa percaya diri tumbuh.

“Yang harus kita lakukan adalah memberikan kekuatan kepada anak kita bahwa anak kita kuat meski di-bully misalnya, bahwa anak kita tidak membenci mereka meski mereka berbuat tidak baik kepada kita,” katanya.

Yetti menjelaskan rasa aman, kasih sayang, rasa percaya diri yang ditanamkan pada anak sejak dini akan membentuk daya lenting atau resilience.

Baca juga: Mendidik Anak Sejak Dini, Inspirasi Keluarga Imran

Menurut sejumlah literatur, lanjut dia, daya lenting merupakan salah satu kecerdasan selain kecerdasan spiritual yang paling menentukan kesuksesan seorang anak.

Kelima, cari lingkungan yang mendukung. Yetti mengatakan bersosialisasi merupakan salah satu kebutuhan manusia, karena itu lingkungan yang mendukung penting bagi proses pendidikan anak.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)