LANGIT7.ID, Jakarta - Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPPIJ), KH Muhammad Subki, menilai umat Islam di Indonesia merupakan salah satu umat Islam yang terbaik di dunia. Indikasinya, masyarakatnya menerima Islam tanpa masalah. Kehadiran Islam pun direspon sangat positif.
“Islam itu bukan agama yang bertentangan dengan tradisi, dan agama yang menghentikan sesuatu yang sudah baik di tengah masyarakat. Bahwa Islam hadir di Indonesia supaya mewarnai lebih baik, itu fakta,” kata Kiai Subki saat berbincang-bincang dengan LANGIT7.ID di Jakarta Islamic Centre (JIC) , Jakarta Utara, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Jakarta Islamic Centre, Dakwah Mengakar dan Mendunia dari Eks Lokalisasi
Di sisi lain, nilai-nilai Islam sangat sesuai dengan karakter asli masyarakat Indonesia yang ramah dan suka gotong royong. Islam sangat cocok dengan naluri ke-Indonesiaan yang ramah.
“Islam itu ramah datang kepada masyarakat yang ramah, maka penerimaannya luar biasa,” kata Kiai Subki.
Hal itu tidak bisa terjadi tanpa peran sentral para ulama. Saat Islam masuk di Indonesia, ulama memperkenalkan Islam sebagai agama yang ramah,
rahmatan lil-alamin. Bukan cuma konsep, tapi sudah menjadi sesuatu yang berbentuk kenyataan.
“Adapun nanti, masyarakat kita masih butuh kemajuan ilmu, peningkatan, itu tahapan. Tapi faktanya Islam datang cocok sekali dengan orang Indonesia yang ramah, yang kulturnya juga bagus,” kata Kiai Subki.
Islam juga tidak bertentangan dengan tradisi dan budaya Indonesia. Kalaupun ada perbaikan, hanya perlu sedikit polesan agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dia mencontohkan budaya wayang yang di-islamisasi oleh walisongo.
“Kita mengenal kultur wayang. Kan itu bisa diislamisasi. Saya pikir itu contoh-contoh konkret yang kita hidup di zaman sekarang ini perlu belajar juga dari ulama terdahulu bagaimana mensinkronisasi antara suku-budaya dengan agama tanpa ada masalah,” ucap Kiai Subki.
Baca Juga: PPPIJ: Persoalan Ekonomi Jadi Masalah Utama Umat Islam
Kiai Subki tidak memungkiri jika ada pro dan kontra di tengah masyarakat. Tapi, dia menekankan, nilai-nilai Islam jauh dari sifat berlebihan. Baik berlebihan secara pro maupun berlebihan secara kontra.
“Artinya, kita punya kewajiban membangun koordinasi, kolaborasi dengan antarumat, antargolongan, bahkan antaragama. Kalau memang prinsipnya, mau menghasilkan kebaikan,” tutur KH Subki.
Memang, kata dia, selalu ada oknum di setiap kelompok. Namun, aktivitas oknum tersebut Tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi secara keseluruhan orang-orang yang ada dalam kelompok tersebut.
“Artinya, kita tidak menafikkan. Bisa jadi dari kalangan Islam ada yang berlebihan, tapi tidak banyak. Tapi kan kadang-kadang kalau sudah dimasukin berita, ini digoreng terus,” ungkapnya.
Dia mengajak semua anak bangsa untuk sama-sama menyadari pentingnya hidup berdampingan secara damai. Hidup dalam keadaan damai melebih apapun. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan keburukan dan kekerasan.
“Artinya, yang memiliki niat jahat kepada kita harusnya kita sama-sama counter. Harus sama-sama kita hentikan, tentu melalui kedewasaan berpikir setiap golongan,” ucap KH Subki.
Baca Juga: Perjalanan Dakwah KH Muhammad Subki, Dari Ustadz Kampung Jadi Kepala JIC
Maka itu, Kiai Subki meminta semua pihak mendukung gerakan anti-Islamofobia. Baik gerakan yang dicetuskan oleh PBB maupun gerakan yang bersifat lokal. Itu penting untuk merawat kemajemukan di Indonesia.
“Jangan kemudian menilai sebagian, karena sebagian kecil merusak citra Islam. Saya pikir, di agama lain, ada juga oknum. Yang merusak itu cuma oknum,” tutur Kiai Subki.
(jqf)