LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan muncul Fenomena Citayam Fashion Week di mana para remaja berkumpul di kawasan Dukuh Atas Jakarta dengan
outfit terbaik mereka. Para remaja ini berasal dari Citayam, Bojonggede, Depok, Bekasi dan kota-kota penyangga Jakarta.
Tak hanya itu, para model, figur publik dari selebritas hingga kepala daerah ikut meramaikan Citayam Fashion Week dengan outfit terbaiknya.
Sayangnya, tak sedikit hal negatif yang muncul di perkumpulan muda-mudi di jalan sudirman ini. Mulai dari sampah yang berserakan, melalaikan shalat, bercampur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, membuka aurat, hingga terakhir muncul beberapa pria melambai yang diindikasikan merupakan seorang gay.
Baca Juga: 7 Dampak Negatif Fenomena CFW, LGBT hingga Rawan Pelecehan
Berpakaian modis dengan
outfit terbaik pada dasarnya bukan merupakan kesalahan. Namun selain menghiasi diri dengan penampilan terbaik, seorang Muslim juga mesti menghiasi diri dengan kehormatan.
Dalam Islam,kehormatan atau harga diri disebut
muru’ah. Para ulama dalam kitab
Al Muru’ah wa Khawatimuha mengatakan,
muru'ah adalah ketika seseorang menjaga diri dengan akhlak mulia, dan sebisa mungkin menjauhkan diri dari hal yang berpotensi jelek.
Salah satu sahabat Nabi yang bisa kita teladani dalam menjaga penampilan dan
muru'ah adalah
Utsman bin Affan. Dia dikenal sebagai sahabat yang memiliki penampilan terbaik.
Dalam buku
Utsman bin Affan karya Muhammad Husain Haekal dijelaskan, secara perawakan, Utsman merupakan sahabat nabi yang berperawakan sedang. Wajahnya tampan, dia tidak tinggi dan tidak juga pendek, dan berkulit cerah dengan sawo matang yang terdapat sedikit bekas cacar.
Secara fesyen,
Utsman selalu mengenakan pakaian yang bagus dan berkualitas tinggi. Meski begitu, dengan segala penampilan itu, dia merupakan sosok yang sangat pemalu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Umatku yang benar-benar pemalu adalah Utsman,”
Baca Juga: Sosok Utsman bin Affan, 4 Kelebihan Sahabat yang Diangkat Jadi Khalifah
Rasa malu
Utsman semakin bertambah jika dilihat orang. Pernah suatu ketika pembantu istrinya bernama Bananah datang membawakan baju saat beliau sedang mandi. Sontak Utsman berkata, “Jangan melihat saya, tidak boleh!”.
Utsman sangat malu jika auratnya tersingkap, malu jika berbuat hal-hal yang tidak etis, bahkan pada masa jahiliyah sekalipun. Rasa muru’ah itulah yang membuat
Utsman sudah tidak goyah dengan minuman keras, bahkan sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul.
Sifat pemalu Utsman ini membuat orang lain menjadi malu kepadanya. Suatu ketika, Rasulullah pernah duduk-duduk dan pahanya terbuka. Abu Bakar meminta izin akan masuk. Dia diizinkan tanpa nabi mengubah posisinya.
Ketika
Umar bin Khattab datang meminta izin, dia juga diizinkan tanpa Nabi mengubah posisi. Namun, saat Utsman meminta izin, Rasulullah pun menurunkan pakaiannya. Aisyah pun bertanya kepada Rasulullah atas sikap itu.
Baca Juga: Keabadian Wakaf Sumur Utsman bin Affan, 14 Abad Mengalirkan Manfaat
Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Utsman orang yang sangat pemalu. Saya khawatir kalau saya mengizinkannya dalam keadaan begitu, maka dia tidak dapat mengutarakan maksudnya.”
Itulah teladan Utsman bin Affan, seorang laki-laki istimewa yang yang tidak hanya menghiasi penampilannya dengan pakaian terbaik tapi juga menghiasi dirinya dengan rasa malu dan kehormatan.
(jqf)