LANGIT7.ID - , Jakarta -
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan
cacar monyet sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (KKMMD) pada 23 Juli 2022 lalu.
Beberapa hari lalu, Indonesia digemparkan dengan temuan pasien suspek cacar monyet di Jawa Tengah. Meski Gubernur Jawa Tengah
Ganjar Pranowo menegaskan hasil pemeriksaan pasien suspek menunjukkan negatif, namun tetap membuat masyarakat waswas akan wabah ini.
Baca juga: Cegah Penyebaran Wabah Cacar Monyet, Hindari 6 Hal BerikutPengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Yahya Zainul Ma'arif mengatakan hal pertama yang harus dilakukan dalam kondisi
wabah seperti ini yakni
ikhtiar.
Menurut dia, penyakit menular tidak ada dalam diri seseorang, kalaupun ada pemindahannya diberikan oleh Allah SWT.
"Memang penyakit menular itu tidak ada dengan dirinya sendiri kalau ada pindah Allah yang kasih. Namun tidak ada
penyakit menular bukan berarti tidak ada penyakit menular," ujar pendakwah yang kerap disapa Buya Yahya ini.
Dia melanjutkan, yang tidak boleh adalah meyakini penyakit itu menular dengan dirinya sendiri. Tetapi jika ada orang sakit hendaknya dipercaya bahwa itu semua karena Allah yang memindahkan penyakit ke tempat tersebut.
Sebab, di ujung hadits berbunyi, "Hendaknya kau lari menjauh daripada orang yang kena lepra, seperti kau lari dari
harimau."
Baca juga: 3 Doa untuk Pedagang Supaya Jualan Laris Manis dan Rezeki BerkahArtinya anjuran dari Nabi Muhammad SAW untuk menghindar dari penyakit itu ada. Maka jika terdapat wabah yang semacam ini pertama yang harus dilakukan yakni berusaha untuk menghindar dengan cara petunjuk medis dan pemerintah.
"Jangan sok tawakal akan tetapi tidak berusaha diterima," katanya.
Buya lalu bercerita kisah
Rasulullah SAW yang memarahi seorang pria karena tidak mengikat untanya.
"Nabi pernah marah pada seorang laki-laki yang punya unta tidak diikat. Lalu, Rasulullah bertanya, kenapa kau tidak ikat? Orang itu menjawab saya tawakal ya Rasulullah. Tawakal tapi tidak mengikat unta, itu yakin kau tawakal? Ikat dulu baru kamu tawakal," lanjut Buya Yahya.
Hikmah yang bisa ditarik dari kisah Rasulullah adalah hendaknya berusaha lebih dulu sebelum bertawakal.
Dalam menghadapi sebuah wabah, doa menjadi hal terpenting.
Buya Yahya pun memberikan doa yang diajarkan
Nabi Muhammad SAW agar terhindar dan dijauhi dari penyakit.
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal barashi, wal junūni, wal judzāmi, wa sayyi’il asqāmi.Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari penyakit lepra, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk.”
Baca juga: KH Yusuf Chudlori: Muharram Merupakan Bulan Dikabulkannya Doa Para NabiBuya menyarankan untuk membaca doa ini sebanyak mungkin, kemudian ditambah dengan
bersedekah.
"Bersedekah itu menolak bala bencana. Bahkan yang sudah sakit disedekahi, berobatlah dengan cara bersedekah. Jadi upaya untuk kita terhindari dari penyakit-penyakit, doanya tidak usah banyak-banyak yang penting diamalkan saja," tuturnya
(est)