Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home global news detail berita

50 Ribu Penyuluh Agama Diminta Sebarkan Nilai Toleransi di Ruang Publik

Muhajirin Sabtu, 06 Agustus 2022 - 21:20 WIB
50 Ribu Penyuluh Agama Diminta Sebarkan Nilai Toleransi di Ruang Publik
Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Kamiruddin Amin di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Sabtu (6/8/2022). (Foto: Langit7.id/Muhajirin)
LANGIT7.ID, Jakarta - Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Kamiruddin Amin, menyampaikan Kemenag RI memiliki 50 ribu lebih penyuluh agama yang tersebar di seluruh Tanah Air. Salah satu tugas utama mereka mendakwahkan nilai-nilai toleransi kepada masyarakat Indonesia.

Dia menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat plural atau sangat beragama. Mulai dari keragaman agama, budaya, suku, sampai bahasa. perbedaan-perbedaan itu bisa memicu konflik jika tidak dilandasi sikap toleransi.

Baca Juga: TGB: Toleransi Itu Sunnatullah, Bagian Syariat Islam

"50 ribu penyulu agama di seluruh Indonesia, mereka sedang diberikan amanah untuk mempromosikan moderasi beragama, dan titiknya tentang toleransi," kata Kamaruddin dalam Launching & Bedah Buku Toleransi karya Prof Quraish Shihab di Islamic Book Fair (IBF), Jakarta, Sabtu (6/8/2022).

Sebagai negara plural, masyarakat harus benar-benar mempraktikan sikap toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada pilihan lain. Islam pun sudah menjelaskan nilai-nilai itu dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Setidaknya ada tiga titik penelitian yang harus dibedakan terkait toleransi itu. Pertama, sumber otoritas Islam yakni Al-Qur'an dan hadits. Al-Qur’an di seluruh dunia sama. Semua ulama sepakat bahwa perbedaan pandangan akan terjadi ketika berbicara tentang hadits.

Kedua, memahami sumber otoritas Islam. Sumber otoritas seperti Al-Qur’an melahirkan banyak bidang keilmuan seperti tafsir dan ulumul hadits. Di sini, banyak perbedaan yang terjadi. Maka, umat Islam harus bersikap dewasa dalam menerima perbedaan-perbedaan itu.

Ketiga, bagaimana Islam diimplementasikan dalam pelataran sejarah peradaban Islam. Islam diamalkan secara empiris, misal bagaimana mazhab beragama di Timur Tengah dan Eropa. Semua memiliki ciri khas masing-masing, tapi tetap bersumber dari otoritas utama Islam.

Baca Juga: TGB: Toleransi Diterapkan di Kehidupan Sosial, Bukan dalam Akidah

"Bicara tentang tolerasi kita punya sumber dari sumber otoritas. Sejarah mencatat tentang pengalaman para sahabat hingga tokoh agama terdahulu dalam mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sosial," ucap Kamaruddin.

Toleransi pun harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, yakni saat berinteraksi dengan orang berbeda keyakinan. Ada pembatas jelas di sini. Umat Islam memiliki akidah yang tidak bisa ditoleransi, tapi itu berlaku secara privat. Tidak perlu diumbar ke ruang publik, agar tidak menciptakan kegaduhan.

"Kalau kita bicara tentang akidah, saya kira dalam hal penentu, tidak ada toleransi. Saya sebagai orang Islam, saya meyakini bahwa agama saya adalah agama yang paling benar, yang akan mengantarkan saya masuk surga. Tapi saya tau bahwa ada teman saya Kristen, Hindu yang juga meyakini agama mereka paling benar," ujar Kamaruddin.

Keyakinan atau akidah tidak bisa digoyahkan. Akidah menjadi hak setiap individu. Maka, perlu sikap toleransi agar setiap umat beragama tetap bisa bekerjasama di ruang publik.

"Saya menghormati anda, saya tidak perlu ke gereja, anda tidak perlu ke masjid untuk menunjukkan toleransi. Ayo kita beribadah dengan keyakinan masing-masing, dengan saling mengharagai," tutur Kamaruddin.

Baca Juga:

UAH: Jangan Toleransi Dukun dengan Julukan Mulia

Jaga Aqidah, Toleransi Tidak Harus Membenarkan Semua Agama

(asf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)