LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden
Joko Widodo (Jokowi) telah mebacakan keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN 2023 beserta nota keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR RI. Pidato presiden menggambarkan bahwa pemerintah ketar-ketir menghadapi kondisi perekonomian global tahun depan.
Direktur
Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad menyatakan, awan gelap akan menaungi kondisi ekonimi nasional maupun global pada tahun depan. Target pertumbuhan ekonomi pada 2023 sebesar 5,3 persen menunjukkan kekhawatiran tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Proyeksikan Pendapatan Negara Rp2.443,6 Triliun pada 2023"Tadinya kami bayangkan pemerintah berani mengambil opsi
pertumbuhan ekonomi pada angka 5,9. Artinya, pemerintah tidak optimis bahwa tahun depan akan terjadi awan gelap sehingga pertumbuhan ekonomi berada pada 5,3," kata Tauhid dalam diskusi publik secara daring, Rabu (17/8/2022).
Berdasarkan pidato Presiden, Tauhid menyatakan bahwa tahun depan masih menjadi masa kritis bagi Indonesia dengan bayang-bayang
inflasi 3,3 persen. Kondisi perekonomian global masih terancam krisis perang Rusia-Ukraina yang membuat harga minyak mentah bergejolak.
Tauhid memandang bahwa asumsi makro yang ditetapkan cukup beralasan. Skenario konsolidasi
APBN pada tahun depan ditunjukkan dengan defisit yang dipatok hampir Rp600 triliun.
Baca Juga: Ekonomi Global Masih Suram, Jokowi: Jangan PesimistisBegitu pula pengetatan ekspansi fiskal yang pada tahun depan semakin dibatasi di mana belanja negara berkurang dibandingkan pada 2022 lalu. Proyeksi belanja negara pada APBN 2022 direncanakan Rp3.106 triliun, sementara belanja di APBN 2023 hanya sebesar Rp 3.041 triliun.
"Saya kira tahun depan akan terjadi stagnasi ekonomi. Ini yang harus diwaspadai terutama masyakarat menengah ke bawah," ucap Tauhid.
Masyarakat perlu mengencangkan ikat pinggang karena akan terjadi pengurangan subsidi, terutama BBM. RAPBN 2023 memperlihatkan keterbatasan anggaran lewat langkah-langkah konsolidasi fiskal di tahun mendatang.
Gambaran besar arsitektur RAPBN 2023 adalah sebagai berikut:- Belanja Negara dalam RAPBN 2023 direncanakan sebesar Rp3.041,7 triliun yang meliputi, belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp2.230,0 triliun serta Transfer ke Daerah Rp811,7 triliun.
- Anggaran kesehatan direncanakan sebesar Rp169,8 triliun, atau 5,6 persen dari belanja negara.
- Anggaran perlindungan sosial dialokasikan sebesar Rp479,1 triliun.
- Anggaran pendidikan sebesar Rp608,3 triliun.
- Pembangunan infrastruktur dianggarkan sebesar Rp392,0 triliun.
- Pendapatan negara pada tahun 2023 dirancang sebesar Rp2.443,6 triliun, yang terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.016,9 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp426,3 triliun.
- Defisit anggaran tahun 2023 direncanakan sebesar 2,85 persen terhadap PDB atau Rp598,2 triliun. Defisit anggaran tahun 2023 merupakan tahun pertama kembali kepada defisit maksimal 3 persen terhadap PDB.
- Pertumbuhan ekonomi 2023 diperkirakan sebesar 5,3 persen. Inflasi akan tetap dijaga pada kisaran 3,3 persen.
Baca Juga:
Ekonom: Pemerintah Perlu Buat Skala Prioritas Belanja Pembangunan di APBN 2023
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2023 Ditargetkan Capai 5,3 Persen
Jokowi Usulkan Anggaran 2023 Rp3.000 Triliun, Ini Rinciannya(asf)