LANGIT7.ID, Cirebon - Sejumlah media melaporkan terjadi pemaksaan
jilbab di sekolah yang mengakibatkan siswi mengalami depresi. Hal itu terjadi di SMA di Yogyakarta dan Lampung Timur.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon,
Buya Yahya berusaha melihat secara proporsional polemik tersebut. Menurutnya, tidak masuk akal ada anak depresi hanya karena diminta memakai jilbab.
Jilbab di lingkungan sekolah sama halnya dengan seragam sekolah pada umumnya. Seperti anak SD yang diwajibkan mengenakan seragam putih merah. Demikian halnya jilbab yang bersifat anjuran bagi siswi.
“Dipaksa sampai depresi? Saya tidak kebayang cara maksanya kayak apa? . Itu kan sebelumnya kayak bentuk seragam aja. Anak SD biarpun dia tidak senang pakai rok merah, celana merah, dia mula-mula tidak senang, tapi pelan-pelan tidak ada masalah. Sebetulnya kan pakai kerudung juga tidak ada masalah. Cuma gimana sampai terpaksa itu?,” jelas
Buya Yahya di Al-Bahjah TV, dikutip Sabtu (3/9/2022).
Baca Juga: Muhammadiyah: Pembudayaan Jilbab di Sekolah Negeri Bagian dari Pendidikan
Maka itu, perlu dicermati terlebih dahulu penyebab depresi tersebut, agar jilbab tidak dijadikan kambing hitam. Jika memang ada pemaksaan, maka pemaksaan itu pun harus dicermati tata caranya.
“Kalau pemaksaan yang salah, diancam begini begitu, itu tidak benar. Imbauan kepada anak kecil, bukan paksaan. Tapi masa pakai pakaian saja sampai depresi. Itu pakaian apa sih yang bikin depresi,” kata Buya Yahya.
Bisa saja siswi depresi itu mengalami tekanan lain. Bisa dari lingkungan sekolah atau bahkan di rumah. Misal siswi itu mengalami perundungan di sekolah atau kekerasan saat di rumah, sehingga itu menyebabkan depresi.
“Sama halnya siswi tidak boleh celana, tapi pakai rok. Karena kamu perempuan. Masa langsung depresi begitu. Jadi, kalau ada kasus depresi begitu, kita lihat dulu apakah murni disuruh pakai kerudung saja, atau cara menyuruhnya yang cara kurang santun, atau memang dalam hidupnya ada pertentangan, sepeti dicaci dan dibully,” ucap Buya Yahya.
Baca Juga: Atlet Silat Malaysia Bangga Kenakan Jilbab Meski Beragama Kristen
Terkait tanggung jawab berjilbab bagi muslimah, Buya Yahya mengatakan, anak-anak perempuan harus diajari menutup aurat seperti berjilbab sejak berumur 7 tahun. Itu dikiaskan dengan hadits nabi yang menyebut anak-anak mulai dibimbing shalat saat berumur 7 tahun.
“Tapi sifatnya masih imbauan. Sifatnya adalah pendidikan yang lembut dan halus, bukan dengan paksaan. Sehingga kalau anak gadis kita sudah 7 tahun hendaknya kita sudah kenakan kerudung, jilbab, biarpun kadang sesaat dipakai, sesaat dilepas,” kata Buya Yahya.
Imbauan itu harus bersifat lembut dan penuh kasih sayang. Orang tua harus mengingatkan secara lembut jika anak-anak masih suka melepas hijab, karena memang belum bersifat wajib. Hanya bersifat pendidikan sejak dini saja.
Baca Juga: Menengok Kampung Muslim di Papua, Semua Wanita Terbiasa Kenakan Jilbab
“Tapi kalau sudah umur haid nanti wajib harga mati. Kalau dia sudah Wanita haid, maka wajib tidak boleh dia membuka aurat di depan kaum laki-laki. Di manapun, tidak boleh. Sepupu tidak boleh. Ini harus tahu,” kata Buya Yahya.
(jqf)