LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Buya Husein Muhammad, menjelaskan, jilbab merupakan identitas muslimah untuk melindungi kehormatan kaum perempuan.
Perintah mengenakan jilbab bagi kaum perempuan termaktub dalam Surah Al-Ahzab 59. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha pengampun, Maha Penyayang."
Baca Juga: Buya Husein: Ajak Wanita Berjilbab, Harus dengan Hikmah
Menurut Buya Husein, salah satu persoalan adalah pemahaman terhadap kata jilbab, hijab, ataupun khimar. Kerap jilbab diartikan sebagai penutup kepala saja. Padahal, esensi dari dari ayat di atas tidak demikian.
"Apakah ketika ayat Al-Qur'an turun, apakah kaum perempuan Arab tidak berkerudung? Ini kekeliruan, sejarah antropologis, itu hampir semua manusia Arabiyah itu berkerudung, bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki. karena secara antropologis itu berada di wilayah padang pasir yang penuh debu," kata Buya Husein di sebuah webinar di kanal Perempuan Berkisah, dikutip Selasa (6/9/2022).
Saat membaca teks ayat harus diikuti dengan pemahaman. Buya Husein menjabarkan, ayat itu turun berkaitan dengan kasus seorang muslimah yang hendak buang hajat di tengah gurun pasir.
Namun, perempuan itu diikuti oleh segerombolan anak-anak muda. Lantara merasa terusik, perempuan itu lalu mengadu kepada Rasulullah SAW. Setelah dipanggil, anak muda itu mengaku dan mengira perempuan itu adalah budak.
"Maka mengulurkan jilbab supaya dikenal sebagai orang merdeka, bukan budak. Dan jilbab itu adalah kain selendang di atas kerudung. Jadi, mereka sudah memakai kerudung, tapi perlu ditambah identitas dengan jilbab. Itu sebagai identitas umat Islam," ujar Buya Husein.
Sejak saat itu jilbab menjadi identitas muslimah, agar mereka tidak disakiti dan dilecehkan. Selain itu, jilbab menjadi pembatas ruang antara laki-laki dan perempuan. Dahulu, pada era Rasulullah, para sahabat sering bertamu ke rumah Rasulullah, sehingga bisa melihat para istri nabi.
Baca Juga: Sejarah Busana Muslim Sebelum Kemerdekaan hingga Munculkan Pasar Baru
"Jilbab itu pembatas antara ruang laki-laki dan perempuan. Sering masuk ke rumah nabi, jadi jilbab itu pembatas," kata Buya Husein.
Namun, esensi dari jilbab itu adalah menjaga kehormatan diri seorang perempuan. Salah satu kehormatan yang harus dijaga adalah aurat. Nah, fungsi dari jilbab itu menutup aurat seorang muslimah.
"Jadi, yang paling utama dari esensi Islam adalah menjaga kehormatan diri. Pakailah pakaian yang bisa menghormati diri sendiri. Esensi ajaran islam yaitu
libasut taqwa (pakaian taqwa), perilaku yang baik, kata-kata yang baik," ujar Buya Husein.
(jqf)