LANGIT7.ID, Jakarta -
Startup e-commerce terbesar di Tanah Air, Shopee kembali melakukan lay-off terhadap ratusan karyawan. Setelah badai startup global yang mengakibatkan banyak
startup melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang 2022, kini giliran Shopee yang mengikuti langkah serupa.
Program Director Indonesia Brand Forum (IBF), Yuswohady, menilai, keputusan Shopee mem-PHK karyawan merupakan tanda paceklik startup kian mendalam.
“Masa-masa paceklik startup kian berkepanjangan,” tulis Yuswohady di akun twitternya, Jumat (23/9/2022).
Berakhirnya pandemi Covid-19 tidak serta-merta membuat masyarakat lolos dari krisis ekonomi global. Kini, justru berada di ambang krisis global baru.
Baca Juga: Banyak Startup Digital Alami Paceklik, Ada Apa?
Ambang krisis global itu dipicu tiga hal yakni meletusnya perang Rusia-Ukraina, melonjaknya harga energi dan komoditas, serta hambatan rantai pasok global.
“Kemewahan kucuran uang tanpa seri dan foya-foya bakar duit sudah berakhir. Modal duit startup kian kering-kerontang. Seri pembiayaan ditunda bahkan dihentikan sehingga sontak terkena stroke,” ujar Yuswohady.
Dengan adanya krisis itu, para
investor kian kejam menuntut tiga hal yakni profit, aliran dana cash, dan keberlanjutan. Tak heran jika startup di tiga market utama Cina, India, Indonesia putar haluan merombak strategi.
Baca Juga: Bhima Yudhistira Ungkap Sebab PHK Massal di Perusahaan Startup Digital
Setidaknya ada tiga strategi startup yang diambil startup untuk bertahan di tengah paceklik yang menimpanya, yaitu memotong biaya, mengatur volume perusahaan, dan pivot &
repositioning. Startup dipecut untuk mencapai default alive atau bertahan dengan investasi seadanya tanpa kucuran investasi lanjutan.
“Yaitu, berdasarkan posisi pengeluaran, pertumbuhan, dan likuiditas saat ini, startup harus segera mewujudkan laba sebelum modal betul-betul habis kering-kerontang dalam 2-3 tahun ke depan,” ujar Yuswohady.
Di tengah gonjang-ganjing ini, Yuswohady menyebut valuasi fantastis yang mereka dapat sebelumnya mulai dipertanyakan pasar. Pasar pun mulai sadar, startup yang selama ini dielu-elukan sebagai bintang ternyata tak lebih dari sekedar "pepesan kosong”.
Baca Juga: Bhima Yudhistira: Musim Dingin Startup Akan Lama, Para CEO Harus Bersiap
“Kepercayaan kepada
startup kini di titik terendah. Bisa ditebak,
startup bubble tinggal tunggu waktu kapan meledaknya. Kalau dulu startup identik dengan cerita sukses, maka kini berbalik menjadi cermin cerita gagal,” kata Yuswohady.
(jqf)