LANGIT7.ID, Amsterdam - Amsterdam menjadi rumah bagi mayoritas muslim yang berada di Belanda. Pada 2004, jumlah penduduk Amsterdam kurang lebih 750 ribu jiwa. Sekitar 63 ribu penduduk adalah keturunan Maroko dan 38 ribu keturunan Turki. Maroko dan Turki merupakan dua komunitas muslim terbesar di Amsterdam.
Ada beberapa distrik yang menjadi kantong domisili muslim di Amsterdam. Di antaranya De Baarsjes, Geuzenveld/Slotermeer, Oud-West, Oost-Watergraafsmeer, Slotervaart, Bos en Lommer, dan Osdorp.
Kegiatan dakwah secara umum berjalan baik di kota itu. Salah satu penyebabnya adalah organisasi Islam yang banyak di sana. Pada 2000 saja, tercatat 20 organisasi keagamaan Turki di kota tersebut. Dari jumlah itu, tujuh milik Federasi Islam Budaya Turki (TICF) yang terhubung ke Departemen Agama (Diyanet).
Baca Juga: Semakin Banyak Mualaf di Barat, Ini Alasan Mereka Memilih IslamDuta Besar RI untuk Spanyol dan UNWTO, Muhammad Najib, menjadi saksi strategi jitu komunitas muslim Turki dalam berdakwah di Amsterdam. Komunitas muslim Turki memiliki Masjid Nizam-I Alem Suleymaniye Camii di Amsterdam Barat.
Menariknya, masjid itu bukan hanya tempat salat saja. Di dalam masjid terdapat lembaga pendidikan, ada pengajian untuk ibu-ibu dan remaja, dan anak-anak disediakan kelask khusus untuk belajar agama.
Tak hanya di Masjid Nizam-I Alem Suleymaniye Camii, tapi kata Najib, di setiap masjid yang dibangun komunitas Turki memiliki rumah makan, tempat tukang cukur, bahkan ada tempat untuk main biliar.
"Ini memang semacam strategi dakwah mereka. Memang dulu tidak banyak komunitas Turki, tapi setelah ada masjid yang ada lembaga pendidikan, jadi mereka suka berkumpul, apalagi ada tempat potong rambut. Akhirnya, warga Turki yang berserakan akhirnya pindah ke sini," kata Najib di kanal Wisma Duta RI Madrid, Selasa (27/9/2022).
Beberapa masjid komunitas Turki di daerah komersial Amsterdam juga memiliki toko. Toko itu menyediakan berbagai keperluan masyarakat. Dengan begitu, kegiatan dakwah Islam diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar.
Baca Juga: Mengenal Kota-kota Warisan Islam di Spanyol dan Portugal
"Karena bukan hanya tidak mengganggu tapi juga memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Ini yang saya sebut Islam
rahmatan lil-alamin," ucap Najib.
Manajemen masjid juga sangat baik. Najib sempat salat dzuhur dan ashar di Masjid Masjid Nizam-I Alem Suleymaniye Camii. Kebersihan sangat terjaga, mulai dari tempat salat, toilet dan tempat wudhu, hingga tempat duduk.
"Bahkan ada air panas, sehingga wudhu leluasa saat musim dingin. Disediakan juga handuk, sehingga habis berwudhu, orang bisa mengeringkan bagian-bagian tubuh yang kena air," ujar Najib.
(jqf)